Kembalinya PFN

KEMBALINYA PRODUKSI FILM NEGARA (PFN) LEWAT FILM “KUAMBIL LAGI HATIKU”

Jakarta, 30 Agustus 2018 – Bertempat di Gedung Kementrian BUMN lantai 3 telah diadakan Press Conference kembalinya PFN yang akan memproduksi sebuah film baru berjudul “Kuambil LagiHatiku”

Setelah hampir 26 tahun “mati suri” akhimya di tahun 2018 ini, Perum Produksi Film Negara (PFN) kembali hadir di kancah perfilman nasional. Produksi terakhir PFN yaitu “Surat Untuk Bidadari” (sutradara Garin Nugroho) dan “Pelangi di Nusa Laut” (sutradara MT Risyaf) di tahun 1992 ketika PFN masih dikenal sebagai PPFN (Pusat Produksi Film Negara) Yang bernaung di bawah Departemen Penerangan RI. Kembalinya PFN ini ditandai produksi film Cerita fiksi yang berjudul ‘Kuambil Lagi Hatiku,” M. Abduh Aziz selaku Direktur Utama PFN memprakarsai proyek ini dengan menggandeng Edy Setijono, Direktur Utama PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) sebagai produser eksekutif, Salman Aristo sebagai produser, dan Azhar ‘Kinoi’ Lubis sebagai sutradara.

“Saya rasa, sekarang saat yang tepat bagi PFN untuk kembali berproduksi. Kita punya banyak cerita tentang kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia yang tidak habis-habis untuk diangkat. Di tengah situasi serius tentang disintegrasi bangsa karena keberagaman justru dianggap sebagai ancaman, maka inilah saat yang tepat untuk menghadirkan sebuah film yang diproduksi PFN. Di lain pihak geliat perfilman Indonesia juga semakin bergairah dan maju baik dari segi pembuat film, maupun dari segi penonton. Ketiga hal itu menjadi pijakan penting dalam pertimbangan PFN sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan tagline ‘BUMN Hadir Untuk Negeri’, untuk kembali memperkuat kondisi perfilman Indonesia yang kondusif ini,’ jelas Abduh Aziz. “Apalagi di dunia sekarang ini, ekonomi kreatif iuga menjadi andalan berbagai negara. Kita harus memulai langkah kita ke arah sana. Secara sumber daya manusia, bidang perfilman juga telah bertumbuh melahirkan pekerja film yang profesional dan berkualitas. Oleh karenanya PFN bekerjasama dengan Wahana Kreator Nusantara, serta para pekerja film maupun aktor-aktor yang jelas rekam jejaknya,’ imbuh Abduh

Baca Juga:  CENTRAL INTELLIGENCE : Saving The World Takes

“Setting tempat Candi Borobudur dipakai di film ini saya pikir, adalah pilihan yang tepat. Borobudur bukan hanya milik Indonesia tapi sudah menjadi milik dunia karena ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia, juga sebagai tempat Warisan dunia. Mungkin memang bukan hal baru bahwa Borobudur dijadikan latar tempat, tapi latar tempat meniadi sebuah aspek komunikasi penting dari film ini. Borobudur bukan sekadar tempat, tapi dia merupakan simbol tentang budaya, tentang nilai-nilai dalam kehidupan. Untuk itulah TWC sangat mendukung pembuatan film ini,” papar Edy Setijono.

Selain TWC, film ini juga didukung oleh berbagai pihak seperti Pertamina, Pelindo 3, PGN, Patra Jasa, WIKA, Waskita, PP, HK, Jasa Raharja, Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, dan Pupuk Indonesia.


“Sebagai pekerja film, saya menyambut baik dan antusias tawaran PFN untuk menjadi produser film ini. Sejarahnya, BUMN produksi film negara ini punya sumbangsih besar dalam ikut membentuk nilai-nilai dan cara pandang tentang Indonesia. Kita sama-sama tahu bagaimana serial TV Unyil pada saat saya kecil, dinanti jutaan anak-anak, bagaimana anak-anak termasuk saya, tidak hanya relate dengan ceritanya tapi mengidentifikasikan diri lewat karakter-karakternya. Harapan saya, kita bisa bersama-sama membuat film yang bicara nilai-nilai budaya kita. Dan saat ini, bicara keberagaman Indonesia menjadi hal yang panting yang ingin kami sampaikan lewat film ini tanpa harus menggurui,” terang Salman Aristo.

Film ‘Kuambil lagi Hatiku’ yang mengangkat kisah ibu-anak dengan problema masa lalu terkait nilai-nilai keberagaman, mendapuk para pemain seperti Cut Mini, Lala Karmela, Dimas Aditya, Ria Irawan, dan Dian Sidik. Dikemas dengan genre drama yang di dalamnya berbumbu komedi, film ini akan memulai shooting pada September 2018 dan direncanakan akan tayang di bioskop bulan Februari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *