SING : The Weakest Animated Feature from Illumination Entertaiment

Seekor Koala oportunis bernama Buster Moon (Matthew McConaughey) sejak kecil telah bermimpi memiliki sebuah teater besar yang rutin mempertunjukkan berbagai pentas seni serta mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar. Mimpinya terwujud kala dewasa, Moon memiliki sebuah teater yang cukup besar, namun dalam kondisi yang memprihatinkan. Teaternya kurang mendapat apresiasi dari masyarakat yang berimbas setiap pertunjukan yang diselenggarakan oleh Moon selalu sepi. Hal terburuknya, selain teater yang terancam disita oleh bank, karir dan impian Moon pun terancam terhenti. Hingga sebuah ide membuat sebuah kompetisi menyanyi menjadi harapan terakhir Moon sekaligus permulaan dari serangkaian kisah hewan-hewan lain yang hidupnya berubah berkat musik melalui film terbaru dari Illumination Entertaiment (Despicable Me, The Secret Life of Pets) yang berjudul Sing.

Sebagaimana judulnya, kita akan mendapatkan sebuah kisah yang berkaitan dengan musik dan kegiatan bernyayi. Kompetisi bernyanyi yang diadakan Moon seakan menjadi sebuah harapan bagi beberapa hewan yang hidup layaknya manusia urban di kota-kota besar di dunia. Ada Johnny (Taron Egerton)  si gorilla muda yang tak nyaman dengan kehidupan kriminal yang diturunkan oleh ayahnya,  Rosita (Reese Witherspoon) babi ibu rumah tangga bersuara emas dengan 20 lebih anak yang jenuh dengan kehidupannya sehari-hari, Mike (Seth MacFarlane) tikus kecil yang merasa punya kemampuan musikalitas yang paling baik namun sombong, hingga Meena (Tori Kelly) gajah remaja yang bersuara indah tetapi punya masalah dengan kepercayaan diri. Dengan formasi ini serta didukung cukup banyak karakter pendukung lain seperti Miss Crawly (Farth Jennigs) si kadal tua asisten setia Buster Moon hingga Eddie Noodleman (John C. Riley) domba sahabat Moon yang kaya raya, Sing punya line-up karakter hewan yang cukup variasi. Namun, keputusan ini bisa jadi menimbulkan dua kemungkinan, positifnya akan banyak karakter yang memberikan warna-warni dalam Sing, dan negatifnya  terlalu banyak yang ingin diceritakan sehingga bisa jadi kurang fokus dan memikat penonton.

Kekhawatiran itupun terjadi. Saya harus jujur bahwa paruh awal hingga 3/4 film menguras kesabaran dan membuat saya berusaha keras untuk melawan rasa bosan. Sing berkutat dan “keasyikan” dengan eksplorasi karakter-karakternya, mulai dari Moon hingga para talent-nya  seperti Jhonny, Rosita, Mike, hingga Meena lengkap dengan masalah mereka masing-masing. Sayangnya kesemua cerita yang sebenarnya punya modal menarik itu harus dipresentasikan dengan cara yang membosankan. Saya tidak menyalahkan formula hingga treatment Sing yang terlalu mainstream dimana mengangkat  perjuangan from zero to hero dengan cara yang biasa saja, tapi ada yang lebih fatal, ketidakmampuan Sing memberikatan keterikatan kepada penonton melalui penyampaian ceritanya. Terlalu banyak cerita yang berpotensi namun terasa sia-sia dan kurang fokus . Dan yang tak kalah disayangkan adalah hilangnya unsur komedi khas Illumination Entertaiment yang membuat banyak sekali komedi di film ini berakhir garing. Sudah keteteran dengan cerita ditambah komedi yang lemah, Sing memang dibuka dengan begitu mengecewakan.

Baca Juga:  SMURFS : THE LOST VILLAGE - THEY WERE NEVER ALONE

Sebagian orang yang menonton Sing di bioskop pastilah tergoda dengan trailer-nya yang cukup menarik ditambah dengan ekspetasi bahwa film-film keluaran Illumination Entertaiment selalu sukses mengundang tawa. Pasti kita mengira akan disuguhkan kisah kompetisi bernyanyi para hewan lucu lengkap dengan persaingan super ketat dan pertunjukkan gila-gilaan. Namun sayangnya, disamping memilih mengangkat kisah persaingan kompetisi bernyanyi yang ketat dan menghibur, Sing lebih memilih mengeksploitasi drama personal para karakternya. Harus diakui, Sing hampir menyia-nyiakan sumber daya manusia bersuara emas dijajaran pengisi suara pada paruh awal film. Padahal bila naskahnya mendukung, bisa jadi kita akan disuguhkan dengan film animasi musikal yang sangat menghibur.

Beruntungnya, para kreator dari Sing tak ingin para penonton pulang tanpa membawa kesan. Sepertiga babak akhir film disajikan dengan luar biasa. Ingat adegan sirkus pamungkas di Madagascar 3 : Europe Most Wanted? Kurang lebih sensainya sama dengan menyaksikan penampilan puncak para karakter Sing. Harus diakui untuk bagian 30 menit terakhir ini memukau dan cukup mengharukan. Bila ada istilah “Save the best for the last” sepertinya para kreator Sing berhasil menunaikannya. Walau jauh lebih baik lagi seharusnya konsisten memberikan tontonan yang terbaik dari menit awal film, tak hanya dipenghujungnya saja.

Secara keseluruhan Sing merupakan tontonan ringan yang cukup menghibur bila mengajak anak-anak untuk menontonnya. Sayang sekali naskahnya terutama di paruh awal film harus digarap dengan tidak konsisten serta bertele-tele. Komedinya juga sangat sering meleset dan porsinya jauh menurun dibanding film keluaran Illumination Entertaiment lainnya. Beberpa faktor itulah yang membuat Sing menjadi film terlemah sekaligus paling tidak lucu dari studio yang berhasil melahirkan karakter Minion tersebut. Namun Sing sesekali tidak lupa cara untuk bersenang-senang terutama dibabak akhir film yang cukup mengobati serta pelipur lara dari adegan-adegan membosankan diawal film. Lantas apa bagian terbaik dari Sing? Tentu saja daftar pengisi soundtrack-nya yang lintas generasi serta genre, dan tentu saja the one and only, Miss Crawly.

Rating : ★★

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *