Rogue One : A Star Wars Story ; A Enjoyable Fans Service (Just) for A Star Wars Fans

Bahagia rasanya mengetahui film-film Star Wars dan universe-nya akan terus muncul setiap tahun seperti superhero-superhero dari Marvel Cinematic Universe. Ditandai dengan rilisnya film ketujuh berjudul Star Wars Episode VII : The Force Awakens yang menjadi pembuka trilogi baru dari saga space opera ini, kini Lucas Film dan raksasa Walt Disney Pictures ingin mengembangkan Star Wars Cinematic Universe dengan menyuguhkan film-film Spin-Off dalam naungan Star Wars. Dan Rogue One : A Star Wars Story menandai akan munculnya proyek-proyek antologi Star Wars selanjutnya dengan kisah yang berdiri sendiri namun tetap berada di universe yang sama dengan saga utama Star Wars.

Sebagai spin-off dari salah satu franchaise terbesar sepanjang masa, Rogue One mencoba tampil beda dan agak sedikit “lepas” dari Star Wars. Hal yang paling mencolok adalah ketika lampu bioskop mati dan film dimulai, kita masih bisa melihat logo Lucas Film, masih melihat tulisan berisi kalimat ikonik “A long time ago in a galaxy far, far away…” namun setelah kalimat tersebut berlalu, kita langsung disuguhkan pemandangan luar angkasa, sadarkah ada sesuatu yang berubah? Ya, Rogue One tak lagi menggunakan opening crawl yang juga ikonik serta iringan scoring legendaris buatan John Williams. Tanpa adanya hal-hal yang sudah Star Wars banget itu, Rogue One seperti memposisikan untuk ingin tampil beda tetapi tidak meninggalkan identitasnya sebagai bagian dari universe-nya Star Wars.

Bila dilihat dari timeline waktunya, setting waktu Rogue One terjadi sebelum Star Wars Episode IV : A New Hope (1977). Rogue One memposisikan sebagai prekuel sekaligus menjawab beberapa pertanyaan yang ada di A New Hope. Mungkin diantara kita ada yang merasa janggal kenapa Luke Skywalker dan pasukan Rebel yang lain begitu mudah menghancurkan senjata besar nan mematikan macam Death Star. Padahal diperlihatkan Death Star merupakan senjata yang sangat rumit serta berkemampuan tak main-main, dapat menghancurkan sebuah planet. Nah, melalui Rogue One-lah dijelaskan bahwa hancurnya Death Star itu melalui proses yang tidak mudah dan Luke Skywalker bukanlah sosok jagoan yang tiba-tiba muncul dan menghancurkan musuh berat dalam sekejap macam Saitama.

Kisah yang diangkat Rogue One tak lagi berpusat pada keluarga Skywalker seperti film Star Wars lainnya, melainkan sekelompok orang tergabung dalam Rebel Alliance yang berhasil mendapatkan titik lemah dari senjata pemusnah massal Death Star. Galen Erso (Mads Mikkelsen), seorang ilmuwan terpaksa ikut dalam project perancangan senjata pembunuh massal Death Star oleh Empire. Hati nurani Galen Erso ternyata tidak berpihak pada dark side. Oleh karena itu dalam perancangannya dia menyelipkan titik lemah dan memberi kesempatan untuk para pemberontak Empire agar bisa memusnahkan senjata besar tersebut. Dan puteri dari Galen Erso sendiri, Jyn Erso (Felicity Jones)-lah yang paling pantas dan tepat untuk mendapatkan tugas merebut skema Death Star beserta titik lemahnya sekaligus menjadi sosok paling sentral dalam Rogue One.

Dalam misi tersebut, Jyn Erso tak sendirian. Dia ditemani oleh Cassian Andor (Diego Luna), seorang anggota Rebel Alliance yang sebelumnya “menangkap” Jyn beserta droid lugu namun suka “nyeletuk” bernama K-2SO (Alan Tudyk). Ditengah perjalanan, mereka juga dibantu oleh pendekar buta yang terobsesi dengan Jedi bernama Chirrut Imwe (Donnie Yen) beserta partner-nya yang berbadan besar dan bersenjata lengkap bernama Baze Malbus (Jiang Wen). Selain duet unik nan perkasa tersebut, tim Jyn juga dibantu oleh Bodhi (Riz Ahmed) yang merupakan pilot Empire yang berkhianat sekaligus kurir pesan dari Galen Erso. Dengan kombinasi inilah, tim yang diberi nama dadakan Rogue One ini berupaya mencuri skema Death Star yang dijaga ketat oleh Empire khususnya Orson Krennic (Ben Mendelshon), perwira yang bertanggung jawab atas project Death Star.

Dilihat dari sinopsisnya, Rogue One akan memiliki alur yang formulaic seperti film sejenisnya dan penonton pun akan tahu bagaimana film akan berakhir, apalagi mengingat ini prekuel dari A New Hope. Terlebih bereksplorasi dengan segala keterbatasannya (mengingat ini prekuel dan harus relevan dengan film Star Wars yang lain), naskah yang digarap Chrits Weitz dan Tony Gilroy malah cenderung main aman. Saya setuju dengan banyak pernyataan teman-teman blogger bila mereka sibuk menghubung-hubungkan Rogue One dengan keseluruhan kisah di Star Wars universe. Kelebihannya ya memang untuk para fans beberapa adegan akan bertebaran easter egg yang akan membangkitkan nostalgia. Namun untuk penonton awam, Rogue One sama seperti film sci-fi bersetting di luar angkasa pada umumnya. Tak seperti The Force Awakens yang mecoba merangkul baik penonton setia franchaise-nya maupun penonton awam, Rogue One sedikit kurang bersahabat dengan penonton baru.

Baca Juga:  ENTOURAGE : Persahabatan Konyol yang Tidak Bisa Dipisahkan

Sepertiga awal film memang agak membosankan. Pengenalan tokoh yang kurang memikat dan terlalu banyak serta penuturan kisah dengan alur yang lambat menjadi penyebabnya. Saya pun harus memaksakan diri saya untuk fokus mengikuti jalannya cerita karena filmnya sendiri kurang berhasil memikat saya secara natural. Tak seperti film Star Wars pada umumnya, dibabak awal film ini sangat sedikit ada momen-momen yang memorable, bahkan berpotensi untuk sangat mudah dilupakan. Satu-satunya yang menyegarkan suasana adalah penampilan dari beberapa karakternya. Jyn beberapa kali tampil badass layaknya Rey di The Force Awakens dan duet Chirrut-Baze Malbus selalu mencuri perhatian setiap muncul di layar. Namun yang menjadi favorit adalah droid K-2SO yang selalu punya panggung sendiri setiap kemunculannya. K-2SO lah yang punya andil lebih untuk menyegarkan kisah yang mulai agak tandus di paruh awal film berkat karakteristiknya serta komedi-komedi lugu yang sering dilontarkannya. Walau tak se-memorable duet C3PO dan R2-D2, K-2SO bisa dikatakan sebagai salah satu droid terbaik yang dimiliki Star Wars Universe.

Dengan babak awal yang cenderung membosankan dan alur kisah yang cari aman serta gampang ditebak, Rogue One tidak sepenuhnya berakhir mengecewakan. Ternyata kita harus bersabar hingga sepertiga film terakhir dimana deretan adegan penuh aksi mulai digulirkan terus menerus. Gareth Edwards yang duduk dikursi sutradara menjaga intensitas babak akhir film begitu rapat dan terjaga. Seakan third act dalam Rogue One menjadi sebuah penebusan dosa karena sebelumnya telah mempresentasikan Rogue One dengan begitu datar. Gareth Edwards menyuguhkan perang bintang yang sesungguhnya, pertarungan baik didarat, diudara, maupun diluar angkasa. Terlebih dengan banyaknya senjata perang yang terlibat dalam peperangan akhir ini, mulai dari Stroomtrooper, Death Strooper, para pilot lengkap dengan pesawat tempur X-Wings-nya, hingga senjata unik AT-AT milik Empire. Terlebih diparuh akhir film ini akan muncul beberapa karakter dari “masa lalu” yang akan membuat para fans Star Wars menjerit kegirangan. Bisa dikatakan third act dari Rogue One berhasil disajikan dengan bombastis dan  memang kegilaan yang sudah seharusnya disajikan oleh film-film Star Wars.

Untuk sisi teknis seperti sinematografi dan penerapan CGI, Rogue One tak perlu diragukan lagi. Sama seperti film Star Wars lainnya, selain cerita, efek teknis inilah yang harus sangat diperhatikan agar nama Star Wars sebagai franchaise film sci-fi unggulan tetap melekat. Dari keseluruan sisi teknis yang terdapat pada Rogue One, yang paling memikat saya adalah bagaimana Rogue One tetap mencoba untuk relevan dengan original trilogy khususnya A New Hope melalui penerapannya di art department. Sangat terlihat teknologi-teknologi yang digunakan sebagai  pendukung setting dalam Rogue One masih relevan dan berkaitan dengan A New Hope, tidak kelewat terlihat canggih seperti prequel trilogy-nya. Detil-detil seperti inilah yang memperlihatkan bahwa Gareth Edwards penuh dengan kejelian serta merupakan seorang fans setia  dari Star Wars.

Rogue One : A Star Wars Story akhirnya menjadi sajian fans service yang memanjakan para penggemarnya, namun tidak untuk penonton awam. Para penonton yang tidak akrab dengan Star Wars akan menganggap Rogue One hanyalah sebuah film sci-fi aksi yang bersetting di luar angkasa dan planet antah-berantah saja. Namun bagi penggemar yang tahu banyak referensi dari Star Wars, Rogue One akan begitu menyenangkan karena kisahnya yang relevan dengan kisah di film lainnya hingga kemunculan karakter-karakter dari franchaise Star Wars yang lain. Walaupun mengganggap sebagai film yang berdiri sendiri, nyatanya Rogue One sangat sulit dilepaskan dari seri Star Wars yang lain untuk menikmatinya secara maksimal. Tetapi seperti film Star Wars lainnya, Rogue One tetap tidak berakhir mengecewakan dan tetap menjadi tontonan seru nan menghibur untuk siapapun, walaupun yang bukan fans akan lebih mudah untuk melupakannya.

Rating : ★★★

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *