FOCUS : Affandi Abdul Rachman ; Dari Pencarian Pendaki Yang Hilang Sampai Aksi Pencurian Berlandaskan Balas Dendam

Rilisnya The Professional pada 22 Desember 2016 menjadi momen berharga sepanjang karir Affandi Abdul Rachman. Bagaimana tidak, melalui film aksi beraroma heist movie ini, Affandi melakukan comeback-nya duduk di kursi penyutradaraan setelah vakum sejak tahun 2012. Pasca menyutradarai film adaptasi novel best-seller Negeri 5 Menara, Affandi sempat mengumumkan mundurnya dari dunia film Indonesia. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan melalui akun Twitter @Apar13, mundurnya Affandi dari belantika film adalah buah dari depresinya terhadap industri film Indonesia yang menurutnya semakin lesu. Namun, setelah dua tahun “hilang”, pada penghujung 2014 Affandi kembali ke industri melalui film komedi-romantis berjudul 7/24. Kembalinya Affandi bukan sebagai sutradara, melainkan sebagai produser. Pasca 7/24, total ada 8 film Indonesia yang diproduseri oleh Affandi dan kesemuanya adalah produksi dari MNC Pictures. Barulah di penghujung Desember 2016, film The Professional rilis yang menandakan kembalinya salah satu sutradara berbakat di Indonesia ini dari masa rehatnya.

Bila melihat filmografi Affandi khususnya sebagai sutaradara, pria kelahiran 13 Desember 1979 ini memiliki rekam jejak positif dalam menangani film-film dengan genre yang berbeda. Affandi mampu menyuguhkan kengerian penuh teror dan misteri melalui film thriller Pencarian Terakhir (2008) serta The Perfect House (2011), kisah cinta penuh tangis dan tawa yang dipresentasikan dengan cara yang unik melalui HeartBreak.Com (2009) dan sekuel-nya Aku atau Dia? (2010), hingga drama inspiratif berbalut religi tentang santri-santri pesantren beserta mimpi besar mereka melalui Negeri 5 Menara (2012). Pada rentang tahun 2008-2012, Affandi menyutradarai 5 judul film dimana kelimanya menuai respon positif dari berbagai kalangan. Tak heran, Affandi pun menjadi salah satu harapan di perfilman Indonesia saat itu dalam menyuguhkan film-film yang berkualitas, mengingat pada tahun tersebut film Indonesia diserbu oleh film-film “murahan” yang merusak citra perfilman lokal itu sendiri. Makanya, keputusan Affandi untuk mundur pada tahun 2012 merupakan kabar yang sangat mengejutkan. Namun syukurlah, Affandi tak butuh waktu terlalu lama untuk “semedi” dan kembali ke perfilman Indonesia.

Memperingati rilisnya film The Professional di bioskop tanah air, Menarik rasanya sedikit bernostalgia dengan film hasil penyutradaraan Affandi sebelumnya. Melalui artikel ini, Gudangfilm akan membahas 5 film panjang Indonesia yang disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman mulai dari debutnya di tahun 2008 melalui film thriller Pencarian Terakhir hingga film terakhirnya sebelum The Professional, Negeri 5 Menara.

Pencarian Terakhir (20 November 2008)

Ditengah maraknya horor-horor murahan lengkap dengan eksploitasi terhadap keseksian wanita, Affandi hadir menyuguhkan angin segar ditengah “kebusukan” film horor Indonesia saat itu. Pencarian Terakhir menyuguhkan kisah survival terhadap pegunungan yang ganas, bukan dari hewan buas melainkan dengan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan hal mistis. Dengan unsur yang sangat kental dengan mitos yang beredar dimasyarakat Indonesia lalu didukung dengan bangunan atmosfir yang tepat tanpa melulu mengeksploitasi kenarsisan sosok hantu, Pencarian Terakhir mampu menyuguhkan film horor yang mengerikan. Sepanjang 110 menit durasi film, Pencarian Terakhir mampu menjaga ritme serta intensitas cerita dengan serangkaian teror yang tak hanya menyerang psikologis para karakternya, namun juga penontonnya.

Pencarian Terakhir berkisah mengenai Sita (Richa Novisha) yang bersama teman-temannya, Oji (Alex Abbad), Bagus (Yama Carlos), dan Tito (Lukman Sardi) mencoba menyusuri alam liar yang “ganas” di pegunungan Sarangan yang angker untuk menemukan adik Sita yang bernama Gancar (Tesadesrada Ryza) yang hilang di sana. Tak hanya medan yang sulit untuk melakukan penyisiran di pegunungan Sarangan, Sita dan teman-temannya harus berhadapan dengan aura negatif yang berasal dari makhluk-makhluk mistis yang bisa saja membahayakan mereka.

Tak hanya memberikan sebuah suguhan film horor yang berkualitas, melalui debutnya di Pencarian Terakhir Affandi membuktikan bahwa dia pantas disebut sebagai salah satu sutradara yang sangat menjanjikan kedepannya.

 

Heartbreak.com (3 Desember 2009)

Setelah memberikan suguhan film thriller di debut film panjang Indonesianya, di film kedua Affandi mengambil jalur yang lebih komersil dengan film komedi-romantis berjudul HeartBreak.Com. Masih mengikuti trend film Indonesia segmen remaja tahun itu dengan mengeksplorasi jalinan asmara anak muda, HeartBreak.Com bisa dibilang mampu memberikan hal yang “segar” dalam jajaran film komedi-romantis tanah air. HeartBreak.Com disajikan begitu cerdas dengan menggabungkan kisah romansa anak muda yang memperjuangkan cintanya dengan permainan taktik dan strategi ala agen khusus. Hasilnya, film kedua Affandi inipun punya tatanan kisah yang memikat serta alur yang sangat menarik untuk diikuti.

HeartBreak.Com berkisah mengenai Agus (Ramon Y Tungka) yang kecewa berat pasca diputuskan secara sepihak oleh pacarnya, Nayla (Raihaanun) yang telah memiliki pacar baru. Ditengah depresinya, Agus dan sahabatnya bernama Wawan (Ananda Omesh) menemukan sebuah lembaga intelijen yang khusus menangani kasus patah hati bernama Heart-Break.Com. Dengan tagline “Patah Hati Anda Bisnis Kita”, perusahaan yang dipimpin oleh Mbak Elza (Sophie Navita) ini membantu Agus agar bisa meraih kembali cinta Nayla. Dengan strategi dan taktik jitu dari Mbak Elza beserta agen-agen Heart-Break.Com yang handal, Agus pun siap untuk mendapatkan kembali Nayla.

Tak hanya mampu memikat penontonnya, HearBreak.Com pun dilirik oleh para juri Festival Film Indonesia (FFI) 2010 dengan mampu mendapat dua nominasi unggulan pada kategori Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa) dan Penata Sinematografi Terbaik (Suadi Utama).

Baca Juga:  "Merindu Mantan" : The Scariest Effect of Broken Heart

 

Aku Atau Dia? (28 Oktober 2010)

Melanjutkan raihan positif yang dituai oleh HeartBreak.Com, Affandi pun langsung gercep (Gerak Cepat) dan langsung merilis sekuelnya dalam waktu tak sampai setahun (Tepatnya 10 bulan 25 hari). Masih berkutat dengan Mbak Elza dan bisnisnya yang bernama Heart-Break.Com, Aku Atau Dia? memberikan konflik romansa yang lebih dewasa. Alasannya, karena klien Mbak Elyza kali ini bukan lagi anak muda seperti Agus-Nayla lagi, melainkan wanita dewasa bernama Novie (Julie Estelle) yang bermasalah dengan kekasihnya bernama Dafi (Rizky Hanggono) yang sangat mengutamakan karir dibanding urusan asmaranya. Seperi halnya tim Heart-Break.Com, Affandi beserta Aku Atau Dia? pun naik level dimana konflik dalam film ini jauh lebih rumit dan lebih sukar untuk diselesaikan. Kasus yang ditangani kali ini melibatkan keputusan masa dewasa, kisah cinta yang ribet, perselingkuhan, hingga cinta lokasi antara agen dan klien yang sampai membuat Tim Heart-Break.Com nyaris depresi. Kedewasaan dalam penceritaan Aku Atau Dia? dibanding film sebelumnya tak lantas membuat film ini jadi lupa “bersenang-senang”, melainkan mampu menyuguhkan kisah drama percintaan yang dewasa sekaligus komedi yang mampu mengocok perut penonton dengan berimbang.

Melalui HearBreak.Com dan Aku Atau Dia?, Affandi mampu memberikan suguhan yang bergizi untuk genre romantic-comedy Indonesia. Keduanya tak menjual kisah cinta menye-menye yang berlebihan atau komedi absurd yang lebih sering miss daripada hit. Affandi menyuguhkan kisah yang berbobot namun dengan cara ringan yang mudah dicerna. Jujur, kami merindukan karya-karya Affandi yang seperti ini. Namun hingga akhir 2016 ini, belum ada kabar pasti kapan ada kelanjutan kasus baru dari tim Heart-Break.Com atau Affandi kembali menyutradarai film romantic-comedy lagi.

 

The Perfect House (27 Oktober 2011)

Melalui film keempatnya, Affandi kembali mencoba untuk memberikan atmosfir menegangkan dengan menyuguhkan film psychology-thriller yang berjudul The Perfect House. Affandi tak main-main dengan The Perfect House, film ini mampu mendapat respon yang meriah kala menjadi official selection di Puchon International Fantastic Film Festival 2011 di Korea Selatan. Tak hanya bermodalkan cerita yang cukup menarik, The Perfect House juga didukung oleh penampilan para cast-nya yang optimal (Terutama Bella Esperance yang berperan sebagai Nyonya Rita), tata sinematografi cantik sekaligus “mengerikan, serta penataan scoring yang tepat pada momennya membuat atmosfir The Perfect House menjadi lebih kelam. Dan tentu saja, Visi dari Affandi yang jelas dalam mempresentasikan The Perfect House membuat film ini jadi salah satu film Indonesia terbaik tahun 2011 menurut kami.

The Perfect House bercerita tentang guru privat untuk anak-anak berkebutuhan khusus bernama Julie (Cathy Sharon) yang mendapat tawaran oleh Nyonya Rita (Bella Esperance) untuk mengajar privat cucunya, Januar (Endy Arfian). Namun, Julie malah terperosok ke misteri yang melingkupi rumah kediaman Nyonya Rita. Sebuah rahasia yang sangat kelam tersembunyi di sana. Nyawa serta kehidupan Julie pun mulai terancam.

 

Negeri 5 Menara (1 Maret 2012)

Langkah baru coba dilakukan oleh Affandi pada tahun 2012. Bila sebelumnya Affandi menggarap film thriller dan komedi-romantis, melalui film kelimanya dia menjajal film ber-genre drama keluarga bernuansa religi. Negeri 5 Menara merupakan film adaptasi dari novel best-seller berjudul sama karya Ahmad Fuadi yang mengisahkan sekelompok sahabat yang sama-sama mengejar mimpi mereka dari pesantren. Walau terkesan mengikuti trend serta “aji mumpung” dengan menggarap film hasil adaptasi novel terkenal macam Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta yang berpotensi mendulang raihan penonton terutama dari pembaca setianya, Affandi tetap tak main-main dengan film ini. Menggandeng penulis skrip tersohor sekelas Salman Aristo untuk menggarap skenario Negeri 5 Menara, duet Affandi-Salman Aristo pun cukup berhasil memberikan formula yang tak hanya bersahabat dengan pembaca novelnya, namun juga penonton awam sekalipun.

Dengan “mantra” sekuat “Man Jadda Wajada”, Affandi menyuguhkan sebuah sajian yang terbilang sederhana, namun tak kehilangan visi dari film itu sendiri. Negeri 5 Menara bertutur dengan tempo sedang, tak terlalu cepat ataupun lambat, sehingga penonton baik yang akrab maupun yang awam sekalipun punya ruang untuk beradaptasi. Tak hanya memberikan tontonan yang penuh motivasi, Negeri 5 Menara tak lupa dengan esensinya sebagai hiburan. Terselip momen-momen lucu yang mampu mengundang senyum penonton hingga adegan mengharukan yang mampu memainkan emosi. Walau ada beberapa bagian yang kurang seperti performa pemainnya yang terkadang masih terlihat kaku hingga penyelesaian babak akhir yang datar, Negeri 5 Menara tetap menjadi tontonan yang memiliki muatan positif dan dibutuhkan oleh keluarga-keluarga di Indonesia.

 

Dengan filmografinya yang bisa dikatakan terus memberikan performa yang positif, tentu karya penyutradaraan terbaru dari Affandi yang berjudul The Professional sangat sayang untuk dilewatkan. Melalui “comeback”-nya ini, Affandi menyuguhkan film action-thriller berbalut heist movie yang jarang sekali ada di perfilman Indonesia. Melalui The Professional, Affandi tak hanya memberikan pengalaman baru bagi karirnya, melainkan juga nuansa segar untuk perfilman Indonesia. The Professional kini sedang tayang di bioskop, tak ada salahnya untuk merasakan sendiri sensasinya langsung di layar lebar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *