MUNAFIK : One of the Scariest Experience in Cinema This Year!

Seorang Ustad muda bernama Adam (Syamsul Yusof) mengalami depresi yang amat mendalam pasca kematian istrinya akibat sebuah kecelakaan. Masa-masa terpuruk ini membuatnya mulai menjauh dari rutinitas harian di masjid hingga mulai enggan untuk membantu warga sekitar rumahnya yang butuh pertolongan. Sampai akhirnya seorang gadis muda bernama Maria (Nabila Huda) mengalami gangguan oleh arwah jahat yang coba “menguasai “ tubuhnya. Meski awalnya menolak, mau tidak mau Adam harus menolong Maria karena di kampung tersebut hanya Adam yang bisa diandalkan untuk mengusir hantu melalui prosesi ruqyah. Disinilah tensi ketegangan sekaligus keseruan dari Munafik dimulai dan perlahan meningkat. Sebuah film horor yang menjadi buah bibir pada tahun ini tak hanya di negara asalnya, Malaysia namun juga merambah ke Indonesia sebagai tetangga terdekatnya.

Kengerian Munafik sebenarnya sudah mulai dibangun sejak pertama kali film ini dimulai. Mayoritas suasana gelap akibat setting malam yang jauh lebih mendominasi dibanding siang serta latar tempat yang mayoritas berlokasi di rumah bergaya arsitetur klasik yang bernuansa khas rumah-rumah di perkampungan seakan mendukung Munafik untuk sukses menakuti penontonnya. Penyebab paling jelas mengapa formula Munafik bisa begitu berhasil di Indonesia adalah kemiripan kultur mulai dari prosesi ruqyah hingga elemen-elemen berbau klenik seperti teluh membuat Munafik terasa begitu dekat dengan penonton Indonesia. Terlebih selain bentuk setannya yang juga cukup familiar dengan kita, Munafik disampaikan dengan pendekatan horor religi yang mana cukup mengingatkan kita terhadap karakteristik genre film horor lokal pada masa jayanya di tahun 80’an.

Adegan ruqyah memang sudah diprediksi sejak trailer-nya muncul akan menjadi primadona dalam Munafik. Kita akan melihat duel yang seru sekaligus mengerikan antara Adam dan kerabatnya bersenjatakan keteguhan iman serta kalimat-kalimat Thoyibbah dari ayat-ayat suci Al-Qur’an melawan kalimat-kalimat melawan iblis jahat yang merasuki Maria yang tak hanya meneror dengan gesture mengerikan serta ancaman fisik, namun juga kalimat-kalimat yang mencoba menggoyahkan keyakinan Adam terhadap Tuhannya. Secara visual serta artmosfir yang saya rasakan saat menonton Munafik, adegan ruqyah di sini tak kalah mengerikannya dari prosesi exorcism di film Hollywood sekelas The Exorcist maupun The Conjuring. Ya, kalian bisa rasakan sendiri begitu mengerikan duel adu kuat keyakinan antara Adam dengan sang iblis mempertahankan Maria. Bahkan lantunan ayat Kursi yang dibacakan oleh Adam-pun sesekali memberikan nuansa yang semakin mengerikan kala menonton berkat apa yang dipresentasikan secara visual maupun hentakan suara oleh Munafik.

Menariknya, Munafik tak hanya menjual kisah Adam yang sepanjang film berjuang keras menyembuhkan Maria, seperti pasangan Ed dan Lorainne Warren menyembuhkan Janet dalam The Conjuring 2. Syamsul Yusof yang tak hanya berperan sebagai Adam namun juga duduk diberbagai lini di balik layar sebagai sutradara, penulis naskah, hingga seorang editor tahu betul untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dalam filmnya dengan memperkaya sisi cerita dan naskah dari Munafik. Selain upaya penyelamatan Maria dari iblis jahat yang dilakukan Adam, kita akan disuguhkan kisah internal dari karakter Adam. Kita akan melihat begitu rapuhnya Adam pasca meninggalnya sang istri tercinta lengkap dengan beberapa keputusan-keputusannya yang sesekali tak mencerminkan sikap dari seorang ustad. Munafik juga menyuguhkan kisah misteri mulai dari hilangnya beberapa orang, benda-benda mistis, hingga beberapa kejanggalan dari beberapa kematian orang terdekat Adam. Sehingga film ini pun seakan mencoba mengajak penonton turut membantu Adam menguak misteri yang ada dan tentu saja yang menggiring penonton kedalam kenyataan yang cukup mengejutkan dibagian akhir film plus mengetahui mengapa film ini diberi judul Munafik. Yang patut diapresiasi adalah kematangan Syamsul Yusof dalam memaksimalkan durasi 98 menit dalam Munafik dengan mampu memberikan intensitas pennceritaan yang rapat sehingga penonton akan merasakan teror disepanjang durasi film.

Baca Juga:  Review ‘Beauty and The Best’ : Kisah Kasih (Dan Perseteruan) Di Sekolah

Sebagai film horor religi, Munafik tak berlebihan dalam soal berdakwah atau menggurui dalam filmnya. Semua pesan moral yang disampaikan oleh Adam maupun ustad lain didalam film masih dalam batas yang wajar dan masih related dengan apa yang ingin dibawakan melalui karakter mereka. Semua elemen religi dalam Munafik berada diporsi yang tepat dan tak sampai melupakan jati dirinya sebagai film horor.

Tak afdhol rasanya membahas Munafik tanpa membahas elemen horor didalamnya. Harus diakui beberapa adegan penampakan hantu mudah tertebak dan diperparah dengan tampilan hantu yang terlihat masih mainstream dan cenderung biasa saja. Namun perlu saya akui, seluruh treatment horor yang coba dikerahkan oleh Syamsul Yusof untuk memancing rasa takut saya pun lebih banyak yang berhasil dibanding gagal. Ini karena Syamsul cermat memainkan elemen visual seperti ruang gelap dan atmosfir yang sesak. Hal ini “diperparah” dengan kecerdikan mengatur suara mulai dari memberikan efek suara sunyi hingga tiba-tiba menghentak dengan volume yang tinggi. Walau kerap mengagetkan secara suara berkat hentakan volume tinggi tersebut, Munafik tak terjebak dengan formula jump scare yang murahan. Munafik juga memiliki beberapa adegan ikonik yang cukup menguji daya tahan serta kinerja jantung penonton. Selain tentu saja adegan ruqyah, sebut saja adegan Adam menggotong pocong hingga terjebak diruang mayat yang penuh sesak yang cukup sukses menciutkan nyali penonton.

Dengan apa yang dipresentasikan oleh Munafik, film ini bisa menjadi pilihan yang cukup memuaskan bagi kalian yang menyukai genre horor. Apalagi bagi kalian yang merasa banyak film horor yang rilis di bioskop tahun ini lebih sering membuat kalian kecewa dibanding merasa puas setelah menonton. Kesamaan kultur antara kisah yang diutarakan oleh Munafik dengan kepercayaan yang hidup ditengah masyarakat Indonesia bisa jadi menambah kesan menyeramkan dalam film ini. Sepertinya patut saya ucapkan terima kasih kepada MD yang telah memboyong Munafik ke bioskop Indonesia. Walaupun telat hampir 8 bulan sejak perilisannya di Malaysia, unduhan ilegalnya sudah banyak di internet, serta penyebaran filmnya di bioskop yang sangat terbatas, merasakan Munafik di layar lebar adalah salah satu pengalaman menonton film horor terbaik saya tahun ini selain tentu saja Don’t Breathe.

Rating : ★★★

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *