FilmFilm IndonesiaReview

PINKY PROMISE : Tak Hanya Menyentuh Namun Juga Edukatif

Tika (Agni Pratistha), gadis muda yang harus menerima kenyataan pahit karena harus gagal menikah dengan kekasihnya akhirnya memilih untuk kembali ada didekat tante Anind (Ira Maya Shopa) yang merupakan keluarga satu-satunya yang masih dimiliki Tika. Tika jelas sangat depresi dan sempat merasa bahwa dirinya adalah wanita yang gagal. Namun, Tika harus merasa beruntung memiliki tante sekuat Anind, ditengah perjuangannya melawan kanker payudara yang menderitanya, Anind mengajak Tika untuk move on dengan membuat sebuah kegiatan positif. Maka terciptalah Rumah Pink, rumah sederhana namun terlihat sangat nyaman dan hangat yang diperuntukkan untuk siapapun yang mengidap kanker payudara. Melalui Rumah Pink-lah, Pinky Promise akan membawa kita kedalam kisah-kisah para survivor yang tak hanya inspiratif namun juga edukatif.

Rumah Pink kian ramai, Pinky Promise pun jadi kian berwarna. Selain karakter Tika dan Anind yang menjadi sentral sekaligus poros utama penggerak film Pinky Promise, film ini juga kedatangan tambahan karakter yang tak kalah istimewa. Ada tiga perempuan dengan latar belakang usia serta sosial ekonomi yang berbeda yang bergabung kedalam komunitas Rumah Pink. Ken (Dhea Seto), mahasiswi cantik yang harus kehilangan payudaranya akibat kanker diusia yang masih sangat muda, ada juga Vina (Dea Ananda) seorang ibu dua anak dari keluarga menengah kebawah yang takut untuk memeriksa gejala kanker payudara karena alasan biaya mengingat dia hanyalah ibu rumah tangga biasa dan suaminya hanya bekerja sebagai satpam. Lalu yang ketiga ada Baby (Alexandra Gottardo), wanita seksi yang bekerja sebagai model majalah pria dewasa sekaligus simpanan lelaki kaya hidung belang ini harus menerima kenyataan menderita kanker payudara yang membuat Baby harus siap kehilangan “aset” penting dalam karirnya. Dengan bermodalkan karakter yang menarik serta beragam, selanjutnya Pinky Promise akan membawa penonton kedalam kisah persahabatan antara para “penghuni” Rumah Pink lengkap dengan perjuangan mereka melawan rasa sakit serta setiap momen kebersamaan yang emosional diantara mereka.

pinky-promise_2

Pinky Promise merupakan karya pertama dari Production House MP Pro Picture, yang pada tahun ini lebih sering dikenal karena loyal membuat nonbar (nonton bareng) beberapa judul film Indonesia di bioskop. Untuk project pertamanya ini, MP Pro Picture mempercayakan Guntur Soeharjanto untuk menjadi pemegang kendali penyutradaraan di film Pinky Promise. Film yang bertemakan pengguna kanker di Indonesia sendiri sudah cukup banyak diproduksi, sebut saja film terlaris tahun 2011 Surat Kecil Untuk Tuhan serta film I am Hope yang juga rilis tahun ini. Bila kebanyakan film sejenis memperlihatkan perjuangan penderita serta interaksinya dengan orang-orang terdekat seperti keluarga, Pinky Promise menyuguhkan kisah persahabatan dan solidaritas antar penderita kanker.

Melalui pondasi naskah yang digarap oleh Gina S Noer, baik MP Pro Pictures, Guntur Soeharjanto, serta pihak lain dibalik layar sepertinya sepakat dan memiliki visi yang sama, untuk tidak menjadikan Pinky Promise sebagai tontonan yang cengeng yang seakan-akan mengemis iba serta air mata dari penonton. Pinky Promise tampil dengan drama yang cukup tegar walau isak tangis beberapa kali ada dibeberapa adegan. Namun semua drama tersebut dipresentasikan dengan manusiawi dan tidak berlebihan. Bahkan uniknya kita masih bisa diajak menertawakan keadaan para penderita yang sebenarnya sangat pahit bila dirasa berkat karakter-karakter yang ada di Pinky Promise, terutama hasil celetukan-celetukan dari Baby.

Baca Juga:  "Gundah Gundala" : Komedi Satir Terhadap Eksistensi Superhero Lokal

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Pinky Promise punya campaign positif dalam memberikan edukasi mengenai kanker payudara yang dibungkus masih ada relevansinya dengan cerita. Sehingga sisi edukasinya pun tak terasa dipaksakan pada penuturan kisah di film. Beberapa hal menarik yang mungkin saja penonton belum tahu seperti kanker payudara bisa dialami oleh pria sekalipun digarap secara menarik di Pinky Promise. Film ini juga mengajak untuk mengenal gejala kanker payudara sejak dini, hingga mengajak kita untuk mengambil langkah yang tepat dan lebih peka dalam menanggapi kanker payudara di lingkungan kita.

pinky-promise_1

Pinky Promise dibuka dengan sangat menjanjikan. Para karakter yang beragam dan punya modal kuat untuk memainkan peran mereka, kondisi yang “mendukung” sisi drama, dan tentu saja penjabaran cerita yang mengalir dengan nyaman serta didukung aspek teknis yang ciamik. Sehingga di paruh awal Pinky Promise saya begitu hanyut dengan cerita dan sangat tertarik dengan setiap permasalahan yang dialami oleh tiap-tiap karakter. Namun menjelang tengah film, Pinky Promise terlalu jauh melebar sehingga banyak kisah yang ingin diceritakan. Dampaknya, banyak karakter yang kurang tereksplorasi. Sebut saja karakter Vina yang sebenarnya punya latar belakang keluarga yang menarik harus mengalah porsinya dan lebih banyak mengangkat perubahan hidup Baby dan romatika serta hubungan orang tua-anak yang dialami Ken. Belum lagi masalah internal yang dialami oleh karakter Tika dan keraguannya atas Rumah Pink. Begitu banyak kisah yang ingin diceritakan padahal durasi juga membatasi membuat beberapa konflik dalam Pinky Promise berlalu begitu saja. Bahkan beberapa konflik belum mencapai level atau tahapan yang ideal untuk memancing emosi penonton harus buru-buru di-cut dan berganti ke adegan berikutnya. Sehingga beberapa konflik terasa tanggung dan tak sampai emosinya. Pinky Promise jelas punya permasalahan dalam penyampaian penceritaan yang terlalu banyak padahal terbataskan oleh durasi terutama dipertengahan film hingga menjelang akhir.

Untuk akting dari para pemerannya tak perlu diragukan lagi. Semuanya bermain dengan bagus dan semuanya mampu menghidupkan karakternya masing-masing. Namun yang paling menonjol adalah akting dari Alexandra Gottardo yang memainkan karakter Baby. Dia adalah scene-stealer sebenarnya dalam Pinky Promise. Akhirnya Pinky Promise adalah sajian yang cukup menarik dan tepat sebagai tontonan untuk memperingati Hari Kanker Payudara Sedunia. Pinky Promise tak mengekploitasi penyakit secara berlebihan dan mampu memberikan tontonan yang berimbang berkat drama yang menyentuh sekaligus sebuah campaign akan kanker payudara yang sangat edukatif.

Rating : ★★★

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close