INFERNO : Petualangan Terbaru Robert Langdon karangan Dan Brown

Sejak tersadar dari pingsannya di sebuah rumah sakit di kota Firenze, Robert Langdon langsung dihadapkan dengan petualangan barunya meski film baru saja dimulai. Seorang ahli simbologist asal Harvard yang diperankan masih oleh Tom Hanks ini langsung menjadi buruan seorang agen yang mengincar dirinya (bahkan nyawanya) serta lembaga kesehatan dunia, WHO. Tuan Langdon jelas kebingungan dengan seluruh kejadian aneh yang terjadi disekelilingnya, secara seluruh ingatan yang berlangsung 48 jam kebelakang sejak dia pingsan tak bisa dia ingat secara jelas. Dibantu dengan suster cantik bernama Sienna Brooks (Felicity Jones) yang ditemuinya di rumah sakit, Langdon langsung mencoba memecahkan dua hal, apa yang terjadi dengan dirinya serta hal besar apa yang berkaitan dengannya hingga Langdon menjadi incaran banyak pihak. Munculnya karakter Professor Langdon menandai kelanjutan dari franchaise film hasil adaptasi novel fenomenal karya Dan Brown yang berjudul Inferno.

Masih dinakhodai oleh Ron Howard, petualangan Langdon memasuki babak baru, babak yang seharusnya menjadi hasil evaluasi Ron Howard mengingat hasil kedua  film sebelumnya (The Da Vinci’s Code serta Angels and Demons) memang mendapat keuntungan secara komersil namun berbanding terbalik dengan pencapaian kualitas yang ditandai oleh banyaknya kritikus yang tidak suka serta fans buku yang kecewa. Lantas dengan budget yang ditekan menjadi US$ 75 Juta dimana dua seri sebelumnya bermodalkan lebih dari US$ 100 Juta, bagaimana pencapaian Ron Howard melalui Inferno kali ini?

Seperti yang saya katakan diawal, film baru dimulai Langdon langsung mendapat situasi dengan tensi tinggi dengan pace adegan aksi yang lumayan cepat. Tak ingin membiarkan Langdon kebingungan sendirian, film ini seakan mengajak penonton (terutama yang belum membaca novelnya) turut menemani Langdon membaca situasi yang ada. Dan hal tersebut bisa dikatakan berhasil di awal film. Langdon merunut-runut serta mengumpulkan segala petunjuk yang semuanya dimunculkan melalui pesan tersirat yang terdapat melalui karya-karya seniman abad pertengahan asal Italia, Dante. Bermodal petunjuk Dante mulai dari lukisan Map of Hell-nya Botticelli hingga syair berjudul The Divine Comedy, Langdon mendapati dirinya serta Sienna menjadi salah satu harapan dunia untuk menggagalkan niat Bertrand Zorbist  (Ben Foster) untuk “merampingkan” jumlah populasi manusai di dunia.

Harus diakui, buku-buku pertualangan Langdon karya Dan Brown banyak membuka mata banyak orang dan mulai tertarik dengan organisasi rahasia macam Secret Society, kelompok illuminati, maupun elite global lengkap dengan segala konspirasi yang mereka susun guna mengatur jalannya dunia. Dan dari segelintir cara yang digunakan untuk mengusai dunia adalah dengan mengurangi populasi manusia di bumi melalui menyebarkan virus penyakit yang mematikan. Cara tersebut pun ditempuh oleh Zorbist yang menganggap memusnahkan sebagian besar penduduk bumi adalah cara yang paling tepat untuk menyelamatkan dunia. Sehingga Langdon beserta Siennna pun harus berusaha menemukan virus tersebut yang disembunyikan oleh Zorbist disuatu tempat tersembunyi dan meninggalkan petunjuk lokasi tersebut melalui teka-teki yang terdapat pada karya-karya Dante. Syukurlah, segala teka-teki keberadaan virus tersebut cocok dengan kompetensi yang dimiliki oleh Langdon sebagai ahli dibidang memecahkan simbol.

Pace dan tensi cepat yang dibangun sejak awal sebenarnya memberikan harapan akan keberlangsungan selanjutnya Inferno untuk menjadi tontonan yang memuaskan. Namun pace yang cepat ini menular ke scene dimana Langdon dan Sienna sedang mengidentifikasi jejak-jejak atau temuan mereka yang menjadi petunjuk penting dalam rangkaian misteri di Inferno. Hasilnya, teka-teki tersebut jadi keliatan ringan dan biasa saja berkat karakter Langdon maupun Sienna yang kelewat jenius yang dengan mudahnya menjawab petunjuk tersebut secara  benar. Sehingga dengan begitu mudahnya kedua jagoan kita ini memecahkan satu per satu petunjuk dan pergi ke tempat satu ke tempat yang lain untuk mendapatkan petunjuk lain pun jadi kurang gregetnya. Bila diambil positifnya (in a bad way), kali ini Langdon beserta tim di balik naskah Inferno tak ingin kita ikut-ikutan merasa pusing memikirkan masalah yang dialami oleh Langdon. Tapi kan sejatinya kita menonton film thriller-misteri macam ini kan memang untuk mendapatkan sensasi kebingungan dan penasaran, tapi Inferno nyatanya terlalu baik dan memilih kita hanya menonton saja Langdon memecahkan petunjuknya seorang diri.

Baca Juga:  TRANSFORMERS : THE LAST KNIGHT - We Can Fight Together!

Sebagai film aksi, Inferno punya adegan kejar-kejaran, tembak-tembakan, hingga adu fisik yang intens dan mampu memacu andrenalin penonton. Beberapa kali kita akan diajak tegang dikursinya berkat presentasi aksi dengan intensitas yang rapat serta pace yang cepat. Bahkan bagian akhir film pun sedikit terselamatkan berkat adegan aksi yang cukup membuat geregetan. Namun sejatinya Inferno adalah film thriller-misteri. Ya seperti yang saya katakan sebelumnya, misteri dalam Inferno terlalu mudah dipecahkan oleh seorang Langdon dan bahkan hampir tak menyisahkan banyak ruang bagi penonton untuk bertanya-tanya. Sisi thrillernya pun begitu, beberapa twist yang coba diberikan oleh Inferno memang cenderung twist yang punya potensi  besar dimana membuat alur kisah menjadi berubah. Tapi harus diakui, twist-nya terasa biasa saja dan sering dijumpai oleh di banyak film thriller-misteri . Dan bagi yang teliti dan gampang menaruh curiga dalam setiap karakter di Inferno, beberapa twist di film ini pun mungkin saja bisa kalian prediksi sebelumnya. Intinya, Sebagai film aksi Inferno bisa dikatakan baik dan menghibur. Namun sebagai film thriller-misteri, Inferno jelas punya masalah di sisi eksplorasi cerita yang sebenarnya punya potensi yang besar.

Melalui Inferno, Ron Howard tidak bisa dikatakan gagal karena secara keseluruhan film masih lumayan enak untuk dinikmati. Ron Howard tetap mempresentasikan Inferno dengan pattern yang sama seperti dua film sebelumnya. Bisa dikatakan sutradara peraih Oscar ini bermain aman dengan penjabaran film yang lebih rapat. Dari segi akting tak perlu diragukan lagi. Semua pemeran bermain dengan bagus dan menghidupkan karakter masing-masing dengan baik. Kredit lebih patut diberikan kepada Irrfan Khan yang mampu menghidupkan suasana di Inferno terutama di pertengahan hingga akhir film.

Budget yang dipangkas lebih minim dari dua seri sebelumnya sangat terasa dibagian bagaimana Inferno minim mengeksplorasi keeksotisan tempat-tempat yang menjadi setting dalam film ini. Ya kita tak begitu merasakan “keagungan” serta magnit luar biasa dari kota Firenze, Venezia, hingga Istanbul. Sangat disayangkan padahal hal tersebut adalah salah satu daya tarik utama dari kisah karangan Dan Brown. Dan akhirnya, Inferno pun bisa jadi meneruskan track record dari film-film adaptasi petualangan Robert Langdon karangan Dan Brown, membuat penggemar bukunya kecewa. Tapi kembali saya ulang, Inferno tak sepenuhnya gagal, banyak bagian yang membuat film ini masih layak dijadikan tontonan yang menghibur. Bila suka dengan dua seri sebelumnya, bukan tidak mungkin kalian juga akan suka dengan film ketiga yang berjudul Inferno ini.

Rating : ★★

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *