Review “MIMPI ANAK PULAU” : Kuatnya cita-cita mengalahkan segalanya

Gudang Film – MIMPI ANAK PULAU merupakan salah satu Film Indonesia yang akan tayang di bulan ini, tepatnya tanggal 18 Agustus 2016 di seluruh jaringan bioskop-bioskop di Indonesia. Selain itu juga Film ini akan tayang di beberapa negara tetangga antara lain Malaysia, Singapura dan Brunei Darrusalam.

Film MIMPI ANAK PULAU merupakan film yang dibuat berdasarkan adaptasi dari novel karya Abidah El Khalieqy (penulis novel Perempuan Berkalung Surban). Film ini disutradari oleh Kiki Nuriswan dan bertindak sebagai Executive Producer yaitu Indra Sudirman. Film ini merupakan hasil kerja sama antara Nadienne Batam Production dengan Studiopro 1226 Jakarta. Setting film ini keseluruhan mengambil lokasi di pulau Batam.

Sementara untuk pemain, film ini dibintangi oleh aktor kawakan Ray Sahetapy, Ananda Faturrahman, Herdin Hidayat dan sebagai pemeran utama Jani Lasa dipilih aktor kecil asli Batam yaitu Daffa Permana. Film ini juga dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris dari Malaysia yaitu Dato Tamimi Siregar, Mardiana Alwi, Azrul Kamal dan yang lainnya. Dan sebagai peran pendukung dalam film ini juga melibatkan anak-anak dan penduduk asli pulau Batam.MIMPI ANAK PULAU menceritakan tentang perjuangan seorang anak desa bernama Jani Lasa (Daffa Permana) dari sebuah pulau kecil di Batam yang bercita-cita tinggi ingin merubah nasib dengan cara mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Jani Lasa adalah anak dari seorang nelayan bernama Sani (Ray Sahetapy) dan Ibu Rubiah (Ananda Faturrahman). Mereka tinggal di sebuah perkampungan kecil yang hanya terdiri dari sekitar 40 kepala keluarga tanpa adanya aliran listrik dan air bersih. Sesekali Ayahnya mengajak Jani berlayar untuk lebih mengenal dan mengetahui pekerjaan sang Ayah. Sang Ayah pun tidak hanya bekerja sebagai nelayan, tapi melakukan pekerjaan lainnya seperti mencari getah karet, berjualan hasil kebun seperti Cempedak, Nenas, dan lainnya. Semua itu dilakukan Bpk Sani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kadang-kadang Jani dan kakaknya Qadir pun ikut membantu sang Ayah mencari buah-buahan di hutan untuk dijual.

Jani kecil bersekolah di SD yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Suatu waktu ia meminta kepada Ibunya untuk dibelikan sepatu, karena hanya ia yang kesekolah tidak memakai sepatu. Sang Ibu pun belum bisa mengabulkan permintaan itu saat ini karena uang nya belum cukup, nanti kalau sudah ada uangnya Ibu nya berjanji akan membelikan sepatu untuk Jani. Jani pun pasrah dan tidak merengek, karena ia juga tau kebutuhan keluarganya jauh lebih penting. Hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk terus bersekolah, Ia pun tetap bersemangat ke sekolah meskipun tidak memakai sepatu.

Suatu ketika karena terlalu lelah bekerja, ayah Jani jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Jani kecil pun sangat terpukul dan sangat berduka karena panutan dalam hidupnya pergi meninggalkan nya selama-lamanya. Tetapi ia tidak mau terpuruk terus menerus, ia harus tegar dan melanjutkan hidupnya bersama Ibu, kakak dan 2 orang adiknya. Setelah beberapa hari semenjak kepergian ayahnya, sang adik perempuan nya diasuh kakek dan neneknya untuk mengurangi beban Ibu nya. Meskipun sedih, ibu Rubiah, Jani dan kakaknya Qadir pun mengiyakan keputusan itu, supaya sang adik bisa hidup layak, dan jarak antara rumah kakek nenek mereka pun tidak terlalu jauh, sehingga mereka masih bisa bertemu kapan saja.

Semenjak kepergian sang Ayah, Jani pun berperan sebagai kepala keluarga dibantu kakaknya Qadir. Ia melakukan pekerjaan apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Mulai dari mencari ikan, mencari getah karet, berjualan buah-buahan di sekolah dan lain sebagainya. Hingga suatu waktu sang kakak (Qadir) mengajaknya bekerja sebagai kuli kayu milik seorang warga Tionghoa. Jani pun bekerja keras supaya mendapatkan upah untuk membeli baju baru di hari raya nanti dan juga supaya ia bisa membeli sepatu dari uang hasil kerja kerasnya. Karena terlalu lelah bekerja setiap harinya, di sekolah Jani pun sering tertidur di kelas. Sang Guru (Herdin Hidayat) pun menasehati Jani supaya tetap tidak lupa belajar meskipun harus tetap banting tulang mencari nafkah untuk keluarganya. Karena Jani terkenal anak yang pandai di sekolahnya, ia kerap kali menjawab pertanyaan dari Gurunya secara benar dan tepat.

Baca Juga:  KOALA KUMAL : Raditya Dika dan Patah Hati Terhebatnya

Setelah beberapa bulan kepergian ayahnya, keluarga Jani kedatangan tamu dari negeri sebelah, Malaysia. Mereka masih tergolong saudara jauh dengan keluarga Jani. Maksud kedatangan mereka adalah ingin mengangkat Jani menjadi anak angkat mereka, yang nantinya Jani akan di sekolahkan di negeri Jiran, Malaysia. Karena pasangan suami istri tersebut sudah 4 tahun menikah tetapi belum juga mendapatkan keturunan. Sang Ibu, Rubiah pun menyerahkan semua keputusan kepada Jani kecil. Ia juga ikut senang karena ini juga demi masa depan Jani nantinya, Jani bisa terus bersekolah bahkan sampai ke perguruan tinggi jika diasuh oleh saudaranya tersebut. Tetapi Jani tidak mau meninggalkan ibunya, ia tetap akan tinggal bersama Ibu, kakak dan adiknya di desa ini. Ia tidak mau melihat Ibunya nanti kesusahan jika ditinggal dirinya. Sang Ibu pun hanya bisa menangis tersedu sembari memeluk tubuh kecil Jani. Ia tidak menyangka pikiran Jani begitu jauh layaknya orang dewasa. Hari-hari berikutnya Jani pun menjalani kehidupan seperti biasanya, sepulang sekolah ia tetap bekerja keras mencari nafkah demi untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Hingga akhirnya selesai sudah masa sekolah Jani di SD setempat. Ia mendapatkan nilai paling tinggi di kelasnya. Sang Guru pun menginformasikan dan menyarankan Jani untuk melanjutkan sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama), tetapi letaknya sangat jauh di pulau Tanjung Pinang. Butuh waktu sekitar 14 jam perjalanan menuju pulau tersebut. Jani pun mengutarakan niatnya kepada Ibunya, bahwasanya ia ingin melanjutkan sekolah di PGA Tanjung Pinang. Karena nanti juga ada mess gratis untuk tempat tinggal para siswa dari luar pulau. Sebenarnya sang Ibu sangat berat hati melepaskan Jani untuk bersekolah di Tanjung Pinang. Karena jaraknya yang sangat jauh, apalagi Jani masih sangat kecil belum pernah berlayar sejauh itu. Pada akhirnya, sang Ibu pun merelakan dan merestui Jani untuk melanjutkan sekolah di PGA Tanjung Pinang. Ia pun meminta sang kakak Qadir untuk mengantar adiknya ini sampai ke Tanjung Pinang. Akhirnya dengan perahu pinjaman dari tetangganya, Jani ditemani Qadir pun berangkat berlayar menuju pulau Tanjung Pinang. Pada saat itu pun Jani masih belum mempunyai sepatu untuk bersekolah, tetapi itu tetap tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar ke PGA. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya Jani dan kakaknya sampai ke sekolah PGA di Tanjung Pinang pagi menjelang siang. Jani pun langsung bergegas mencari tau tempat pendaftaran siswa baru. Tetapi sayang karena pendaftaran siswa baru telah ditutup dan hari itu adalah hari untuk tes penerimaan siswa baru. Akankah Jani masih bisa bersekolah di PGA Tanjung Pinang ini?!

Secara keseluruhan film MIMPI ANAK PULAU ini sangat menghibur sekaligus menginspiratif anak-anak Indonesia saat ini. Film ini sarat akan pesan moral, melalui kisah hidup Jani yang digambarkan dalam film ini bahwa pendidikan itu sangatlah penting meskipun jarak atau halangan lainnya menghadang, tetapi kita tidak boleh putus asa. Selain itu logat bahasa yang digunakan yaitu dialek Melayu membuat ketertarikan sendiri untuk menonton film ini. Ditambah lagi setting lokasi yang sepenuhnya di Pulau Batam yang menampilkan pantai-pantai nya yang indah turut memberikan nilai tersendiri bagi film ini.

Dan bagaimanakah kelanjutan dari film MIMPI ANAK PULAU ini?! Akankah Jani masih bisa melanjutkan sekolah di PGA Tanjung Pinang? Dan bagaimanakah kisah hidup Jani yang membuat dia bisa sukses seperti sekarang ini?! Temukan jawabannya dengan menonton film MIMPI ANAK PULAU yang akan tayang mulai tanggal 18 Agustus 2016 di seluruh jaringan bioskop-bioskop di Indonesia.

Happy Watching Gfers and Enjoy the Show!

http://gudangfilm.in/2016/08/review-mimpi-anak-pulau-kuatnya-cita.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *