SABTU BERSAMA BAPAK : Bapak Tak Hanya Ada Di Hari Sabtu, Namun di Setiap Hari

Oleh: Momo

Uniknya, pada Lebaran tahun ini kesemua film Indonesia yang rilis adalah hasil adaptasi dari sebuah novel maupun buku yang laris dipasaran. Begitupun Sabtu Bersama Bapak, sebuah film keluarga yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya. Novelnya sendiri cukup fenomenal dengan menjadi best-seller di Indonesia dan sudah dicetak ulang sebanyak 22 kali. Dengan bermodal itulah, Max Pictures bekerja sama dengan Falcon Pictures tertarik mengangkatnya kedalam format film layar lebar dan rilis pada momen lebaran tahun 2016.

Ody Mulya dari Max Pictures mempercayakan project ini disutradarai oleh sutradara ternama Indonesia, Monty Tiwa. Pilihan ini bukan tanpa alasan, Monty Tiwa berhasil menaruh jiwa kedalam filmnya terutama yang bertema keluarga, sebut saja Test Pack. Selain menangani departemen penyutradaraan, Monty Tiwa juga menangani penulisan naskah dengan dibantu penulis asli dari novelnya, Adhitya Mulya.

Setiap bapak pasti ingin melihat anak-anaknya tumbuh dewasa. Melihat anak-anaknya tumbuh berkembang, melihatnya meraih prestasi, lulus kuliah menjadi sarjana, hingga melihatnya menikah tentu adalah dambaan seluruh bapak di dunia. Tak terkecuali Gunawan Garnida (Abimana Aryastya). Memilki dua orang putra bersama Itje (Ira Wibowo) yang bernama Satya dan Cakra tentu membuat Gunawan ingin melihat anaknya tumbuh hingga sukses. Namun sepucuk surat berisi vonis kanker yang dialami Gunawan membuatnya harus mengubur dalam-dalam impian tersebut.
Gunawan yang sedih tak bisa mendampingi kedua anaknya tumbuh dewasa berinisiatif membuat beberapa video yang nantinya ditonton oleh istri dan kedua anaknya setiap hari Sabtu. Video  tersebut berisi pesan-pesan sang ayah yang harus diterapkan oleh Cakra dan Satya sebagai bukti Gunawan tetap mendampingi dua buah hatinya tumbuh dewasa. Cakra dan Satya menerapkan dengan baik nasihat dari sang ayah hingga keduanya tumbuh dewasa. Satya (Arifin Putra) menikahi perempuan cantik bernama Rissa (Acha Septriasa) dan memilih untuk tinggal di Prancis serta telah memiliki 2 orang putra. Sedangkan Cakra telah menjadi pemimpin salah satu deputi disebuah Bank dan sedang dipusingkan oleh permasalahan pencarian pendamping hidup.

Sejak awal film, sisi emosional penonton sudah diuji melalui adegan detik-detik Gunawan meninggalkan istri dan kedua belah hatinya. Dengan tone warna yang sedikit senja dan suasana yang terasa kelabu semakin membuat adegan perpisahaan ini semakin haru. Monty Tiwa menyuguhkan adegan pembuka yang kuat sehingga walau kehadirannya cukup minor setelah paruh awal film, namun pengaruh Gunawan sebagai seorang Bapak cukup kuat. Sabtu Bersama Bapak sukses membangun pondasi cerita yang kuat sejak awal sehingga penonton akan merasakan pengaruh dari sang bapak kepada kedua anaknya di sepanjang film.

Kisah Gunawan dan kedua anaknya tentu bukan jualan satu-satunya dalam Sabtu Bersama Bapak. Pasca pembukaan yang getir nan haru, penonton akan diperlihatkan kehidupan dua anak Gunawan secara terpisah. Pertama penonton diperlihatkan keluarga Satya dan Rissa beserta kedua anaknya yang tinggal di Prancis. Satya yang sangat “mengidolakan” sosok bapak sebagai role model dalam hidupnya memiliki sifat yang keras dan tegas dalam hidup. Sikap inilah yang memicu konflik keluarga antara Satya dan Rissa. Rissa merasa tak sesempurna yang Satya harapkan serta terlalu dibayang-bayangi oleh sosok Bapak yang “hinggap” di diri Satya. Melalui kisah keluarga Satya Monty Tiwa memberikan tensi tinggi konflik keluarga yang sebenarnya sering dijumpai namun terasa pelik.
Secara bergantian dan terpisah, sosok sang adik, Cakra juga diceritakan dalam Sabtu Bersama Bapak. Bila tensi kencang dan konflik keluarga terpancar dalam kisah Satya, Cakra malah sebaliknya. Problematika asmara yang dialami oleh Cakra disampaikan dengan cara yang ringan dan penuh unsur komedi. Ya kisah Cakra meraih sang pujaan hati dengan cara yang canggung serta aneh tentu saja mampu memancing tawa penonton. Bermodal bermain sitkom di salah satu channel TV di Indonesia membuat nilai humoris Deva semakin terasa. Kisah Cakra meraih cinta dengan segala kelucuan didalamnya memperkaya rasa didalam Sabtu Bersama Bapak. Sehingga film ini tidak hanya menyuguhkan pengalaman menonton yang haru, sedih, emosional, namun juga lucu dan menghibur.
Sabtu Bersama Bapak menyuguhkan pengalaman penonton yang kaya rasa. Walau punya modal untuk menjadikan film ini penuh adegan air mata dan mengeksploitasi habis-habisan penyakit yang dimiliki Gunawan, namun sepertinya Monty Tiwa lebih bijak mengambil keputusan dalam mengeksekusi film ini.

Baca Juga:  Pesantren Impian (2016)

Monty Tiwa tahu batasan, tak mau terlalu cengeng. Dengan apa yang disajikan dalam film ini pun cukup menyentil perasaan dan membuat rindu dengan orang tua. Walau tak sampai menitikan air mata haru di bioskop seperti yang banyak diekspetasikan. Esensi dari Sabtu Bersama Bapak pun kurang terasa dengan adegan-adegan menonton video tiap hari sabtu yang begitu minim ditampilkan. Adegan-adegan pada awal film beberapa terlalu melompat jauh. Sayang sekali padahal bila di eksplorasi lebih akan semakin membuat chemistry keluarga Gunawan semakin erat.

Dengan apa yang tersaji dalam Sabtu Bersama Bapak, film ini mampu memberikan suasana haru serta kerinduan terhadap orang tua, terutama sosok bapak. Seluruh pemeran dalam film ini tampil sangat baik sehingga semakin menghidupkan film ini. Terutama karakter Gunawan yang diperankan oleh Abimana Arya yang terlihat sangat meyakinkan walau porsinya tak sebanyak karakter yang lain. Sabtu Bersama Bapak juga menjadi tontonan yang komplit dengan mampu memberikan rasa haru, sedih, emosional, dan lucu dalam satu film. Sabtu Bersama Bapak bisa menjadi pilihan tontonan keluarga dengan kualitas yang baik pada momen libur Lebaran 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *