“Love Paper” : Lika Liku percintaan dalam karya Eksperimental

Semua manusia pasti pernah merasakan cinta dan punya cerita serta pengalaman cinta masing-masing. Dari sekian banyak ekspresi serta cerita yang diciptakan dari segala keserbamungkinan yang bida dibuat oleh cinta, tak sedikit yang merasakan pengalaman “Manis diawal, asam dibelakang”. Awalnya menjalin cinta, sepasang sejoli saling memahami satu sama lain baik dan buruknya, plus dan minusnya. Bahkan penggalan lirik “All of me love all of you” yang dikutip dari lagu “All of Me” milik John Legend sangat mewakili apa yang mereka rasakan, apa yang mereka sebenarnya sedang toleransikan. Namun seiring berjalannya waktu dan seringnya bertemu, manis itupun perlahan memudar. Tingkat toleransi dan saling memahami-pun perlahan luntur. Dan segala janji pada awal hubungan tinggallah janji. Demikian sedikit yang setidaknya ingin dituturkan oleh “Love Paper”. Sebuah film pendek yang menggunakan cara yang cukup unik dalam menuturkan maknanya.

“LovePaper” berkisah tentang sepasang suami istri yang menjalani hubungan mereka dimana masa-masa manisnya cinta sudah mulai memudar. Diperlihatkan bagaimana mereka sudah mulai tak saling memahami serta tak saling toleransi lagi satu sama lain. Kepekaan antara mereka-pun meluntur terlihat dari tidak memahami keadaan pasangan masing-masing dan mulai hilangnya respect antara mereka. “Love Paper” merupakan love story dimana Kisahnya terasa umum namun cukup menyentil kehidupan dalam hubungan dewasa. Menyindir bahwa hubungan yang tidak lagi dilandaskan kepedulian satu sama lain akan berujung sebagai bencana.

Apabila “Love Paper” digarap dengan konsep film fiksi naratif seperti film pendek pada umunya, mungkin dengan tema yang seperti demikian akan terlihat biasa saja dan tidak begitu istimewa, namun film yang disutradarai Bambang “Ipoenk” KM  menjadi beda karena disajikan dengan cara yang unik serta beraroma eksperimental. “Love Paper” dihidangkan dengan menggunakan tehnik “Stop Motion” dimana setiap adegannya yang terasa patah-patah merupakan jahitan antara setiap frame yang membuat film ini jadi lebih artistik. Setiap pergerakan gambar satu ke gambar lain dimana stop motion bekerja semakin menekankan ekspresi serta gimmick yang terbentuk dari dua pelakon dalam “Love Paper”. Hasilnya setiap gerakan dan adegan jadi lebih terasa mendalam dan penontonpun lebih merasakan setiap gerakan dan detil yang disuguhkan dalam film ini.

Selain teknik yang digunakan yang mana bisa dibilang unik tentu saja yang paling terlihat mencolok dalam “Love Paper” adalah bagaimana production design bekerja dengan baik untuk mendukung setting dalam film ini. Penonton akan disuguhkan bagaimana niatnya kerja Art Director bernama Deki “Peyank” Yudhanto serta tim artistiknya menghidupkan setting yang mayoritas dibuat dari kertas koran. Semua properti hingga kostum dalam “Love Paper” dibuat (atau beberapa dilapisi) oleh kertas koran mulai dari kursi, televisi, peralatan dapur dan sebagainya. Tak hanya berupa benda, hal-hal mendetil seperti air dan api dalam film ini pun menggunakan kertas yang membuat film ini terasa konsistensinya.

Baca Juga:  MUSIK UNTUK CINTA : Musik bisa mengalahkan segalanya.

Tentu saja penggunaan kertas yang menjadi mayoritas dalam film ini bukan tanpa maksud dan hanya gaya-gayaan biar terlihat “artsy”namun memiliki makna yang mendukung cerita dalam “Love Paper”. Filosofi kertas yang digunakan dalam “Love Paper” merupakan semiotika dari tempat segala mimpi dan harapan dituangkan. Pada awal menjalin hubungan banyak mimpi hingga gombalan tertulis disana. Hingga berjalannya waktu segala harapan itupun memenuhi kehidupan kita dan perlahanan harapan itupun dikhianati oleh sang pembuatnya. Ketika sumpah cinta itupun dilanggar dan tak semanis kala membuatnya, akan ada cat hitam “memblok” pernyataan mereka dan menutup segala impian serta cita-cita mereka, bahkan cinta mereka pun bisa ikut tertutupi oleh cat hitam tersebut. Kurang lebih begitu. Cukup menarik bagaimana cara “Love Story” memaparkan salah satu kenyataan dalam cinta.

“Love Paper” mampu menampilkan suguhan yang menarik tak lepas dari sinergi yang baik dari sutradara dan kedua pemainnya, yang diperankan oleh Nindya Paramitha dan Riva Aulia Rais. “Love Paper” mampu mengekspresikan setiap gimmick, ekspresi wajah, gesture tubuh dengan sangat baik setiap part-part adegannya. Dengan didukung dengan setting tempat yang unik, menjadikan setiap adegan dalam “Love Paper” begitu memikat. Satu hal lagi yang menarik dalam “Love Paper” ialah penggunaan gumaman sebagai bahasa. Hal ini tentu saja pilihan yang tepat dikarenakan menjadikan bahasa dalam “Love Paper” menjadi universal dan mudah dimengerti oleh penontonnya yang bukan hanya dari negera alanya yaitu Indonesia, tentu saja memudahkan untuk penonton dari negara lain. Kembali lagi ekspresi yang ditunjukkan oleh para pemain “Love Paper” mendukung setiap gumaman yang mereka lontarkan.

Selebihnya dengan durasi yang cenderung pendek sekitar 9 menit, “Love Paper” menyuguhkan tontonan menarik serta mampu menyinggung sebuah hubungan dewasa. Dalam satu sisi penonton akan terpukau bagaimana tehnik yang unik didukung dengan setting dan production design yang terbilang niat, disisi lain ada kenyataan cinta yang kadang sering ditemukan di kehidupan sehari-hari. Unik dan Kreatif mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang tersaji dalam “Love Paper”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *