Film IndonesiaReview

JUARA : Komposisi Membumi Namun Terasa Istimewa

Review Oleh : Momo

Sekitar tiga tahun yang lalu, penonton dibawa bernostalgia dengan grup lawak legendaris Indonesia bernama Srimulat melalui Finding Srimulat. Kemudian, pada Februari 2015 disuguhkan film mengenai jatuh-bangun penderita HIV-AIDS dengan tanpa mengeksploitasi si penderita secara berlebihan berjudul Nada untuk Asa. Ya, melihat hasil yang dicapai pada dua film yang disebutkan tadi, Charles Gozali dan MagMa Entertaiment memang konsisten menyuguhkan film dengan kualitas baik dalam penuturan cerita sehingga setiap konfliknya bisa menyentuh hati penonton. Pertengahan April 2016, Charles Gozali beserta MagMa Entertaiment melahirkan ‘anak’ kelima mereka berjudul Juara yang mengusung multi-genre yaitu drama keluarga serta percintaan khas anak muda yang dibalut dengan komedi serta aksi. Dalam film ini Charles mempercayakan kepada Bisma Karisma sebagai karakter yang menjadi poros utama penceritaan Juara.

Secara garis besar Juara mengisahkan kisah ‘From Zero to Hero’ dari seorang remaja bernama Bisma (Bisma Karisma) yang tidak menyadari bakat ilmu beladiri yang mengalir dalam darahnya. Bisma sangat ingin untuk berlatih beladiri namun ibunya (Cut Mini Theo) selalu berusaha menjauhkan buah hatinya dari apapun yang berhubungan dengan hal semacam itu. Suatu hari Bisma jatuh hati pada Bella, gadis tercantik di kampusnya. Namun, kedekatan Bisma dengan Bella tidak disukai oleh mafia newbie bernama Attar (Cicio Manassero) yang juga mengincar Bella. Attar pun berkali-kali melakukan tindakan pembully-an terhadap Bisma. Setiap mendapat tekanan dari Attar, Bisma tetap mampu bangkit dan bertahan. Hingga seseorang dari masa lalu Bisma beserta ibunya datang kembali kekehidupan mereka.

Seperti judulnya, Juara akan memperlihatkan proses seseorang untuk meraih sebuah pengakuan atau pencapaian dalam hidup. Kisahnya selintas mengingatkan dengan The Karate Kid, namun Juara sama sekali tak meniru dan menyuguhkannya dengan cita rasa lokal. Seperti yang tergambar dalam 3 poster tema yang beredar menjelang rilis di bioskop, film ini akan mengetengahkan tema Love, Family, dan Honor yang akan dibawakan melalui 3 genre film juga, Action, Drama, Romantic-Comedy. Permasalahan yang sering timbul dari film multi-genre seperti ini adalah ketidak mampuan setiap elemen menyatu dengan baik. Lalu apa Charles Gozali mampu mengatasinya? Yes, He did. Charles mampu meramu setiap elemen tersebut dengan pas dengan setiap unsur dapat mendukung serta menopang unsur yang lain sehingga menciptakan keterikatan dalam  alur penceritaan. Komposisi seluruh adegan dalam Juara dapat dipresentasikan dengan seimbang oleh Charles Gozali. Ibarat sebuah boyband, semua personil mampu bersinar dan saling supportuntuk mempertunjukan kualitas vokal dan gerakan koreo yang baik, tanpa harus mengorbankan beberapa personil untuk fokus memberikan ‘cahaya yang lebih terang’ ke salah satu personil.

Keberhasilan ini tak lepas dari pondasi naskah yang digarap oleh sang sutradara sendiri bersama Hilman Hariwijaya. Naskahnya sangat membumi dengan dialog yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, setiap dialog menjauhkan penonton dari kata lebay. Elemen teenlit khas anak muda dibawakan dengan tema Love melalui kisah cinta Bisma dan Bella. Interaksi romansa antara Bisma-Bella mampu menunjukan kisah cinta khas anak muda yang imut-imut dan manis tanpa terkesan skenario banget. Chemistrymereka terjaga sejak ‘kecelakaan’ awal mula mereka jumpa hingga dipenghujung film. Bisma yang tengil, pecicilan, serta humble harus menerima rentetan tindakan pembully-an dari Attar karena mendekati kekasihnya, Bella. Film ini mampu mempertontonkan setiap adegan pembully-an terhadap Bisma dengan sangat menyebalkan dan membuat penonton turut prihatin terhadap apa yang dialami Bisma. Juara mengangkat isu pembullyan karena sadar target penonton mereka yang notabene anak muda yang dekat sekali dengan urusan bullying di tempat mereka menuntut ilmu. Sebuah pengambaran yang cukup baik akan seberapa pengecutnya sebuah tindakan bullying.

Sejak film pertama berjudul Rasa hingga film kelimanya ini, Charles dan MagMa konsisten menaruh satu unsur dalam penceritaan film mereka, interaksi keluarga. Dalam Juara, Charles menyajikan jalinan kasih ibu dan anak melalui karakter Ibu Sarah dan Bisma. Sarah sukses dihidupkan oleh Cut Mini dengan karakter yang bawel (yup, like mother like son), protektif, dan penuh kasih sayang. Penggambaran keluarga sederhana yang mengais rezeki dari berjualan mie ayam namun penuh cinta dan tawa mampu disampaikan dengan baik melalui momen kebersamaan Sarah dan Bisma. Diperkuat dengan karakter Mo, karyawan ibu Sarah yang lucu serta Karisma (Tora Sudiro) yang merupakan sosok cukup penting dalam cerita menjadikan interaksi rumah Bisma begitu hangat. Sehangat mie ayam buatan Bu Sarah yang baru matang dan dinikmati kala hujan turun.

Memasukkan adegan aksi dalam film memang tak boleh main-main dan harus dipertanggung jawabkan. Charles punya modal pernah menunggangi beberapa sinetron aksi seperti Jacky, Jacklyn, Buce Li, dan Elang sehingga setidaknya punya pengalaman menggarap adegan-adegan fighting. Dibantu dengan Jonathan Ozoh (Koreografer seri HBO’s Halfworld) dan Cecep Arif Rahman, Charles menciptakan adegan-adegan fighting yang cantik secara koreografi dan sinematografi. Tim ini juga harus mengakali menciptakan keseimbanagan kala mempertemukan dua pemeran dengan tingkat kemampuan beladiri yang cukup jomplang, Bisma melawan Cecep.

Bagi Cecep yang notabene memang aktor laga papan atas Indonesia saat ini, saya sama sekali tidak ragu dan angkat tangan bila beliau harus melakukan adegan berkelahi. Namun, bagaimana seorang Bisma yang anak boyband? Kembali lagi Charles paham bahwa Juaratak hanya mengeksploitasi kebintangan Bisma untuk menarik dedek-dedek fans-nya Bisma untuk menonton Juara, tapi juga mendorong dan mengajak Bisma ke level akting yang lebih tinggi. Bermodal latihan koreografi saat tampil bersama Sm*sh dan latihan intensif selama 8 bulan menghasilkan setiap adegan laga yang diperankan Bisma terlihat meyakinkan. Bahkan Bisma mampu mengimbangi Cecep di final fight di film ini. Charles Gozali, You know Him so well.

Perpaduan para pemeran dalam Juara mampu menghidupkan setiap unsur dalam film multi-genre ini. Karakter Bisma sebagai poros utama film mampu mengimplementasi unsur Love-Family-Honor serta membawakan adegan romantis, kehidupan keluarga, aksi, dan komedi dengan takaran yang pas. Walau seorang debutan sebagai pemeran utama sebuah film, Bisma membayar tuntas segala ekspetasi maupun kekhawatiran akan kualitas aktingnya. Ketotalan ini lah yang memungkin tawaran untuk bermain di film-film lain akan datang menghampirinya seperti sahabatnya di Sm*sh, Morgan yang terjun lebih dulu di dunia film.

Selain Bisma, cast lain juga tampil tak kalah bagusnya. Anjani Dina sangat cantik dan penuh pesona kala menghidupkan karakter Bella. Berkat Anjani-lah, Bella menjadi layak untuk diperjuangkan oleh Bisma. Cut Mini sangat total menjalankan perannya sebagai Ibu dari Bisma. Wajah bangga, ceria, penuh kekhawatiran, hingga momen-momen komedi tersalur dengan baik, seperti Cut Mini memainkan dirinya sendiri. Cicio yang lebih sering bermain sebagai protagonis-pun dapat terlihat sanget menyebalkan disini. Pelantun lagu Kebelet Pipis Papa saat masih anak-anak ini, bahkan sangat kuat untuk menjadi villain number 2 setelah Cecep. Sudah menjadi musimnya menempatkan seorang comic(penggiat Stand-Up Comedy) sebagai pemeran utama atau pendukung dalam film. Dalam Juara pun kehadiran Mo Sidik dan Dicky Diifie mampu menghidupkan beberapa momen komedi ditambah akting Ronny P Tjandra yang awalnya terlihat sangar sebagai bos besar mafia namun sepanjang bergulirnya film beberapa momen lucu keluar dari peran beliau. Yang menjadi sorotan adalah peran Tora Sudiro sebagai Karisma. Kita mengenal Tora selalu berakting konyol nan jenaka di setiap perannya. Namun, Charles berkehendak lain. Disini Tora begitu bijaksana, penyayang serta mampu menghidupan peran sebagai mantan atlet silat pemenang kejuaraan internasional yang tidak dapat perhatian oleh Negara dan terpaksa bekerja untuk mafia. Di Juara-lah kedewasaan akting dari komedian Tora Sudiro diperlihatkan.


Kesimpulannya, Juara mampu memberikan saya tontonan yang berhati. Beberapa momen mampu memberikan senyum-senyum kecil sambil terharu akan pola tingkah dan kehangatan khas keluarga, tertawa akan kekonyolan, merasakan manisnya asmara, hingga kesal dengan perilaku bullying. Semua elemen mampu ter-blend dengan baik dan rapih. Setiap elemen mampu mendukung serta menopang satu sama lain. Film Indonesia bertema keluarga terbaik yang saya tonton di bioskop setelah Surat Dari Praha di tahun 2016 ini. Dan lagi, Charles Gozali kembali mampu menyuguhkan sebuah tontonan yang membumi dan tak terlalu dramatisasi. Setelah Finding Srimulat dan Nada Untuk Asa, Charles mampu mencetak hattrickdi hati saya melalui Juara.

Pernakah anda untuk waktu yang lama jauh dari rumah? Jauh dari keluarga? Dan dimasa perantauan, anda menemukan tempat makan (Kalau penulis sih Warteg) yang masakannya membuat anda serasa makan masakan orang tua? Kadang masakannya apa adanya dan terkesan sederhana namun terasa sangat istimewa. Tepat sasaran, membuat rindu akan rumah sekaligus orang-orang didalamnya.  Seperti ada bumbu magis dikomposisi masakannya. Begitu pula kala penulis menonton Juara. Serasa dirumah dan merasakan hangatnya atmosfer dalam film ini. 
Baca Juga:  FILM BORUTO: NARUTO THE MOVIE (2015)

GudangFilm

GudangFilm adalah website yang membahas berita & sinopsis film terbaru, review film indonesia, film Hollywood, Film Korea, Dokumenter & Indie dari berbagai negara. Selain itu, kami mengadakan berbagai acara nonton bareng artis dan di Gala Premiere! Jangan lupa follow social Media kami ya ^_^

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close