ArtikelFilm Indonesia

NGENEST: Catatan Penulis Skenario & Sutradara – Ernest Prakasa

Sebagai penulis, saya maklum dengan fenomena buku best-seller yang diangkat ke layar lebar. Rasanya wajar saja bila production house akan lebih tertarik untuk memfilmkan sesuatu yang memang sudah populer dan memiliki basis massa, dibandingkan dengan sebuah skenario baru yang benar-benar dibuat dari nol. Oleh karena itu, ketika beberapa production house menghubungi saya untuk menjajaki adaptasi buku NGENEST ke layar lebar, saya menanggapi dengan tangan terbuka.
Starvision bukan pihak pertama yang menghubungi saya terkait buku NGENEST, tapi ada sesuatu yang berbeda yang saya rasakan saat pertama kali mengobrol dengan Pak Parwez (Chand Parwez Servia, Produser). Saya merasa beliau memperlakukan karya saya dengan hormat dan apresiatif, bukan semata sebagai sebuah komoditi yang potensial secara bisnis.
NGENEST:  Catatan Penulis Skenario & Sutradara – Ernest Prakasa
Akhirnya saya menemukan kecocokan dengan Starvision, dan kami mulai membicarakan kemungkinan adaptasi buku NGENEST ke layar lebar, dengan saya sebagai penulis skenario dan pemainnya. Tapi kemudian, saya diminta untuk juga menjadi sutradara. Alasan beliau, ini cerita saya, saya yang paling mengerti mau dibawa kemana cerita ini dan seperti apa esensinya. Saya paham alasannya, tapi saat itu juga saya menolak dengan alasan bahwa selama ini saya menjadi aktor dan memperhatikan bahwa tugas sutradara amatlah berat. Bagi saya yang bukan siapa-siapa lantas duduk di kursi sutradara, bisa jadi merupakan sebuah pelecehan bagi profesi yang amat luar biasa tersebut. Tapi Pak Parwez meyakinkan saya bahwa saya bisa.
Sepanjang karir saya, saya jarang sekali bertahan lama di sebuah zona nyaman. Oleh karenanya, saya memberanikan diri mengambil tantangan ini agar saya bisa belajar dan lagi-lagi memasuki dunia yang baru. Satu syarat saya ke Pak Parwez, saya ingin didampingi oleh orang-orang yang memang saya percayai. Akhirnya sebagai dua jenderal utama, saya merekrut Dicky R. Maland (Director of Photography) dan Alwin Adink Liwutang (Line Producer & Co-Director), dua orang yang sudah saya kenal baik ketika bekerjasama di film Comic 8 dan Comic 8: Casino Kings.
Maka berjalanlah project film NGENEST, sebuah drama komedi yang saya kembangkan ceritanya bersama istri saya Meira Anastasia, dan saya perkokoh dengan berkonsultasi dengan Jenny Jusuf (Pemenang Skenario Adaptasi Terbaik di Festival Film Bandung & Festival Film Indonesia untuk film Filosofi Kopi). Proses penulisan skenario berjalan selama kurang lebih empat bulan, dari awal Juni hingga akhir September 2015. Karena ini diangkat dari buku, tantangan terberat dalam menulis skenario memang bukan di mencari bahan mentah, tapi bagaimana merangkai fragmen-fragmen cerita yang ada menjadi sebuah runutan cerita yang utuh dan memiliki dramaturgi yang baik. Benang merahnya adalah tentang seorang pria keturunan Cina yang ingin berbaur dengan pribumi sehingga ia menikahi seorang perempuan pribumi, dikemas dengan ringan dan jenaka. Sebagai komedian, saya gigih memperjuangkan agar komedi menjadi bagian integral dari naskah ini, bukan hanya sebagai sempalan yang hanya membumbui.
Setelah naskah beres, mulailah kami menjalani waktu pra-produksi yang cukup ketat, sekitar satu bulan. Setelah itu kami menjalani sekitar tiga minggu waktu shooting. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Bila boleh saya simpulkan, menjadi sutradara adalah pekerjaan paling berat yang pernah saya jalani seumur hidup. Stamina fisik dan mental saya benar-benar diuji hingga ke titik nadir. Seolah menjadi sutradara belum cukup, di NGENEST Kadang Hidup Perlu Ditertawakan saya juga menjadi pemeran utama dan harus menjalani lebih dari tujuh puluh scene. Bahkan berat badan saya sempat susut hingga tiga kilogram. Andai shooting berjalan selama dua bulan, selesai shooting saya langsung langsing bak model catwalk.
Salah satu pertanyaan yang sering dialamatkan ke saya setelah shooting selesai adalah, bagaimana ekspektasi saya terhadap film ini. Jujur, sebagai penulis skenario dan sutradara, harapan saya hanya satu: Semoga penonton mendapatkan pengalaman yang menyenangkan karena disuguhi sebuah kisah yang ditulis dan dieksekusi secara apik. Menghibur, mengharukan, dan juga mencerahkan. Semoga.
Baca Juga:  CRIMINAL : The Mission is in the Memories

GudangFilm

GudangFilm adalah website yang membahas berita & sinopsis film terbaru, review film indonesia, film Hollywood, Film Korea, Dokumenter & Indie dari berbagai negara. Selain itu, kami mengadakan berbagai acara nonton bareng artis dan di Gala Premiere! Jangan lupa follow social Media kami ya ^_^

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close