Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)

Oleh: Riskawuni

“Demikianlah perempuan, Ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.” 

Lagi-lagi perfilman Indonesia dihadiri kembali oleh film yang diangkat dari sebuah novel terkenal. Kali ini giliran film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang diangkat dari novel klasik berjudul sama karangan Buya Hamka. Bukan main-main, film drama romantis yang disutradarai oleh Sunil Soraya dan diperankan oleh Herjunot Ali (Zainuddin), Pevita Pearce (Hayati) dan Reza Rahadian (Azis) sudah meraih lebih dari 800.000 ponton dalam sepekan penayangannya. Sunil sendiri kabarnya sudah mempersiapkan film ini sejak 5 tahun yang lalu. Tidak mengherankan, riset dan persiapan yang matang, sangat diperlukan dalam penggarapan film ini supaya tidak mengecewakan para pembaca sastra lama.
Film berlatar belakang tahun 1930-an diawali oleh kedatangan seorang pemuda yatim-piatu keturunan Minang yang berasal dari Makassar bernama Zainuddin ke Batipuh, Sumatera Barat, dengan tujuan mengenal tanah kelahiran ayahandanya serta menimba ilmu agama disana. Sebagai seorang anak yang berasal dari pernikahan dua adat yang berbeda yaitu Minangkabau dan Bugis, hidup Zainuddin tidaklah mudah. Salah satunya, perlakuan diskriminasi yang diterima olehnya. Di Makassar dia tidak dianggap sebagai orang Bugis, sedangkan di tanah Minang ia tidaklah dianggap sebagai orang Minang. Permasalahan tambah meruncing saat ia jatuh cinta dengan seorang putri tetua pimpinan Batipuh, Hayati. Hayati ternyata juga menaruh hati pada Zainuddin yang sehari-hari berperilaku santun itu. Pasangan yang dilanda asmara tersebut memutuskan untuk menikah namun keadaan masyarakat yang pada masa itu sangatlah erat memegang adat istiadat, menghalangi niat baik mereka berdua. Zainuddin tidak bisa menikahi Hayati karena dianggap ia bukanlah putra asli Minang karena ibunya berasal dari Makassar.
Karena patah hati, Zainuddin dengan berat hati meninggalkan Batipuh dan pindah ke kota Padangpanjang. Namun, sebelum Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh, Hayati pergi menemuinya dan mereka berdua saling mengikrarkan diri untuk saling setia mencintai sehidup-semati. Selama beberapa waktu mereka tetap menjaga tali kasih dengan saling berkirim surat. Tak lama, ikrar yang sempat mereka ucap mendapat cobaan berat kala Hayati bertemu dengan kakak seorang temannya bernama Azis yang ternyata terpikat dengan kecantikan Hayati. Tidak lama berselang waktu, Azis meminang Hayati dan tentu keluarga Hayati lebih memilih pinangan Azis, seorang yang anak asli Minang yang keluarganya bergelimang harta. Mendengar pernikahan Hayati, Zainuddin sakit hati dan memutuskan untuk melupakan Hayati dengan pindah ke tempat yang jauh bersama sahabatnya, Muluk (Randy Nidji). Dengan tekad yang kuat, Zainuddin membangun kehidupan barunya dan tak disangka ia sukses menjadi seorang penulis besar di tanah rantau. Lama tak berjumpa dengan Hayati dan Azis, secara tak sengaja Zainuddin bertemu kembali dengan mereka berdua pada sebuah pesta. Benih cinta yang sebenarnya masih ada, kembali bergejolak. Bagaimanakah kisah kelanjutan mereka berdua?

Film yang berdurasi sekitar 165 menit ini cukup solid membawakan plot cerita yang begitu banyak. Sunil Soraya berhasil mengarahkan para pemerannya dengan baik tanpa penceritaan yang ‘lari’ kemana-mana. Pujian saya lancarkan kepada Reza Rahadian yang kehadirannya dengan mudah berhasil ‘mencuri layar’. Kualitas akting Junot di film ini juga sangat kuat. Berbeda dari beberapa filmnya terdahulu, di film ini ia seakan ‘naik kelas’ karena berhasil dengan lancar melafalkan dialog-dialog puitis nan menyentuh dan logat Makassar yang cukup konstan semenjak awal film. Sayangnya, Pevita Pearce terlihat berusaha keras untuk mengimbangi kedua lawan mainnya tersebut walau penampilannya kali ini tidak bisa dibilang buruk. Jelas, ada peningkatan kualitas dibanding film terdahulu. Saya justru terkesan dengan peran Muluk, dibawakan oleh Randy Nidji yang notabene bukanlah seorang aktor. Karakter Muluk berhasil diperankan dengan pas, tidak belebihan. Dukungan tim artistik sanggup menghadirkan latar tahun 1930-an seperti contoh, adanya tempat pacuan kuda dan mobil-mobil tua yang sulit didapatkan di Indonesia juga patut mendapat pujian. Pakaian yang dikenakan oleh para pemeran berhasil menggambarkan keadaan pada tahun itu. Sedikit saya teringat dengan film The Great Gatsby.
Film ini tidaklah lepas dari beberapa kekurangan. Salah satu yang cukup mengganggu saya adalah penyajian gambar di beberapa adegan yang menggunakan efek visuali yang rasanya sangat kebiruan. Entah itu dimaksudkan untuk memberikan kesan teduh dan pagi atau ingin membedakan settingan tempat yang disajikan tanpa filter. Tetapi di beberapa adegan, Yudi Datau berhasil menyajikan gambar yang sangat luar biasa indahnya. Kemudian saya juga sempat melihat beberapa tata artistik yang ‘miss’ seperti beberapa benda yang semestinya belum ada pada tahun itu dan lembaran buku yang terlihat tidak ada tulisannya. Lalu , sempat ada kalanya terdengar pengucapan logat yang goyang. Penempatan lagu yang dibawakan oleh group band Nidji sesekali dirasa kurang pas dengan adegan. Adegan animasi kapal tenggelam yang dirasa kurang ‘mulus’ memberikan kesan kurang nyata.
Dibalik kekurangan-kekurangan minor yang telah saya tuliskan diatas, bisa dibilang film ini berhasil menghadirkan sebuah kisah klasik epik dengan dukungan kuat performa akting para pemeran dan seluruh departemen produksi. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sanggup menyentuh hati tiap penontonnya. Sebuah pencapaian dalam perfilman Indonesia yang patut diberikan apresiasi yang tinggi. Rating: 4/5
Baca Juga:  5 Film Terbaik Raditya Dika : Dari Kotak Kenangan Mantan Hingga Brontosaurus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *