99 Cahaya Di Langit Eropa (2013)

Oleh: Vitamorgana
99 Cahaya Di Langit Eropa, sebuah film yang diangkat dari buku berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini merupakan film ke 40 produksi Maxima Pictures. Film berjenis drama religi ini menceritakan tentang perjalanan spiritual yang dilakukan sepasang suami istri Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) dalam menyusuri jejak-jejak peradaban Islam selama 3 tahun mereka tinggal di Eropa. Selama 105 menit, kita akan disajikan berbagai kisah tentang persahabatan antara Hanum saat dirinya dan Rangga tinggal di Austria dengan wanita Turki bernama Fatma Pasha (Raline Shah) yang tinggal dengan anaknya bernama Ayse. Fatma menunjukkan pada Hanum tentang sejarah Islam di benua Eropa dan juga tata cara Agen Islam berperilaku disana. Fatma juga memperkenalkan Hanum pada Marion (Dewi Sandra), seorang Dokter yang bertugas di Perancis, saat Hanum menemani Rangga yang mendapat tugas presentasi di kota Paris. Selain itu juga, kita akan disajikan beberapa konflik mengenai toleransi beragama yang harus dialami Rangga di kampusnya.
Di film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini, selain penonton akan disajikan dengan cerita tentang kehidupan masyarakat muslim di Eropa dan beberapa sejarah peradaban Islam disana, mata kita juga akan dimanjakan oleh sinematografi menarik yang menampilkan banyak pemandangan indah di benua itu. Kita akan diajak berjalan-jalan ke beberapa tempat indah di Eropa hanya dengan duduk menatap layar bioskop.
Tak hanya berbicara lewat gambar, jajaran pemain mampu berakting dengan baik. Dari Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Dewi Sandra sampai Raline Shah. Tak hanya itu, kehadiran Alex Abbad memerankan Khan, muslim fanatik asal India serta Steffan pria agnostik yang diperankan oleh Nino Fernandez, berhasil memberi daya tarik tersendiri.

Namun sayangnya ada beberapa detail adegan yang ‘miss’, meski terlihat sepele tapi agak fatal bagi beberapa orang (termasuk saya). Di film tersebut tokoh Fatma yang digambarkan sebagai seorang Agen Islam yang seharusnya lebih bisa menjalankan aturan Islam secara kaffah (menyeluruh), tapi malah melanggar salah satu aturan dalam Islam yang mengajarkan untuk makan dan minum menggunakan tangan kanan. Seperti di scene saat Fatma, Hanum dan Ayse sedang makan Croissant di sebuah café, mereka nampak makan dengan cara  memegang pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri yang otomatis makanpun dengan tangan yang memegang garpu. Jika mengikuti aturan  ‘table manner’ hal tersebut sudah tepat sesuai etika, namun dalam hal etika Islam itu kesalahan fatal. Bukankah bisa saja makanan itu dipotong-potong terlebih dulu lalu kemudian memindahkan garpu ketangan kanan untuk kemudian menyantap makanan tersebut? Kesalahan tersebut membuat saya berpikir, apakah sosok Fatma seorang Agen Islam atau hanya seorang Agen Peradaban Islam?
Kekurangan dalam film ini juga terlihat pada urusan naskah. Sebagai bagian pertama dari dwilogi yang direncanakan, ceritanya kurang mengikat emosi. Konflik yang ingin dilihat penonton pun tidak tersedia di film 99 Cahaya part 1 ini, sepertinya memang sengaja disimpan untuk bagian kedua film ini yang rencananya akan tayang di bulan Maret 2014. Selain itu adegan yang menampilkan Fatin sebagai penampilan khusus, dirasa kurang pas dan janggal.
Meski dengan berbagai kekurangan tersebut, tetap ada hal menarik yang akan di dapat oleh penonton ketika keluar dari bioskop. Selain ingin berjalan-jalan ke luar negeri, muncul keinginan untuk mengenal Islam lebih dekat. Serta menantikan kelanjutan film ini di tahun 2014 nanti. 
Baca Juga:  Film "Pizza Man"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *